HEADLINEPASPENDIDIKANTOKOH

Akhmad Sobarna : Jadikan Mahasiswa PJKR Religius, Kultural dan Nasionalis

*) Ketua PJKR STKIP Pasundan Cimahi

CIMAHI, WWW.PASJABAR.COMBermula dari menjadi atlet atletik yang pernah menjuarai Kejurnas di Jawa dan Bali, berlanjut ke tingkat nasional pada tahun 1996, membawa Ketua Prodi Magister Pendidikan Jasmani dan Olah raga STKIP Pasundan Cimahi, Dr. Akhmad Sobarna, M. Pd. menjejaki karier sebagai pendidik.

“Saya sendiri merupakan lulusan STKIP Pasundan Cimahi tahun 2000 pada jurusan PJKR. Sambil mengajar saya juga melanjutkan kuliah di UPI program Pascasarjana jurusan Studi Pendidikan olah raga dan lulus tahun 2007 dan sempat menjadi  seketraris UPT KKR. Kemudian pada tahun 2010  diangkat menjadi ketua program  Studi PJKR S1 hingga tahun 2018,” ulasnya.

Setelah itu, pria kelahiran Batujajar, 26 Januari 1972 ini pun melanjutkan studi S3 di UNJ Pada prodi pendidikan olah raga dan lulus pada 2016  sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,98. Untuk kemudian menjadi ketua prodi Magister Pendidikan Jasmani pada tahun  2019.

“Sejak kecil tidak ada niat menjadi dosen atau menempuh jenjang pendidikan yang tinggi, namun karena saya atlit atletik, kemudian mulai mengajar mata kuliah atletik, dari sana saya harus memenuhi kapasitas dan meningkatkan profesionalisme sebagai dosen agar mampu memberikan wawasan dan pengajaran yang baik bagi mahasiswa,  oleh karena itu saya melanjutkan hingga S3,” jelas ayah dari satu orang anak ini.

Mengenai suka duka mengajar sebagai dosen selama kurang lebih 16 tahun, menurut Akhmad sangat banyak, sukanya tak terhitung sementara dukanya adalah jika mahasiswa tidak memahami mata kuliah yang diajarkan meski sudah berkali-kali diberikan dengan beragam metode.

“Seorang dosen harus mampu memancing mahasiswa agar dapat mengembangkan potensinya, belajar menjadi dewasa dan mandiri, tidak harus selalu mendapatkan informasi saat pembelajaran, tapi juga mampu mencari sendiri, untuk menambah perspektif dan pegetahuan yang lebih luas,” terangnya.

Pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian dan Desain Kurikulum ini juga bercerita bahwa kemandirian menjadi poin penting, terlebih untuk mahasiswa S2 dimana mempelajari kajian-kajian yang sangat mendalam. Membutuhkan keseriusan untuk memiliki kepakaran meneliti permasalahan sesuai dengan bidang yang digelutinya.

“Dalam mengajar saya juga menyelaraskan dengan motto STKIP Pasundan yaitu Rancage hate, jembar panalar, dan panceg agamana. Dimana membina mahasiswa memiliki hati yang luas, pengetahuan yang baik dan memiliki nilai religius yang terangkum dalam akidah, syariah dan ahlak,” tandasnya.

Akhmad mengungkapkan bahwa nilai religius, kultural dan nasionalisme menjadi barometer mahasiwa yang berkualitas, yang terus dikembangkan lewat berbagai  kegiatan  baik dilingkungan dosen maupun mahasiswa.

“Jika pendidikan baik maka negaranya juga akan baik. Sebab pendidikan adalah salah satu tolok ukur kemajuan, dengan sumber daya manusia yang berkualitas akan memiliki kompetensi untuk bersama-sama memajukan bangsa,” ulasnya.

Terkhir Akhmad berharap bahwa STKIP Pasundan Cimahi, kedepannya bisa bersaing dengan universitas lain, menghasilkan lulusan yang hebat, kualitas dosen dan mahasiswanya pun akan semakin baik.

“Adapun harapan untuk diri sendiri adalah ingin memberikan kontribusi untuk STKIP Pasundan Cimahi, mendidik generasi muda untuk menjadi penerus bangsa yang baik. Dan sebagaimana motto hidup hidup saya, yakni mengedepankan keistiqomahan dalam melakukan segala hal untuk kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi,” pungkasnya. (Tan)

Tags

Related Articles

Close