HEADLINEPASPENDIDIKANTOKOH

Dikdik: Tak Hanya Tunjang Intelektual Mahasiswa Tapi Juga Integritas

*)Wakil Dekan III FEB Unpas

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Membangun mahasiswa yang berkualitas, terang Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpas, Dikdik Kusdiana SE,.MT bukan hanya dari kecakapan secara intelektual, tapi juga perlu ditunjang dengan etika dan kepribadian.

Dikdik menerangkan bahwa hal utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa adalah nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan mau bekerja keras.

“Saya senantiasa mengatakan kepada mahasiswa untuk tidak mencontek, memberikan tugas yang banyak agar mereka mau belajar lebih luas dan kemampuannya akan terasah,” jelasnya kepada Pasjabar belum lama ini.

Integritas, lanjut pria Bandung, 7 Oktober 1967 , seperti  memiliki pendirian, tegas, berani untuk mengambil keputusan, mampu menanggung resiko, disiplin dalam mengikuti rapat dan dapat berinovasi adalah hal yang mestinya dibangun dalam diri mahasiswa.

“Dalam hal ini, peranan dosen sangat penting, bagaimana dosen mampu memberikan motivasi, mengetahui masalah belajar mahasiswa dan memberi mereka semangat. Saya juga mengatakan kepada mereka bahwa waktu belajar di kampus terbatas untuk setiap mata kuliahnya, oleh sebab itu mereka  perlu mempelajarinya sendiri di rumah, menggali lebih dalam agar memiliki kapasitas sesuai dengan kompetensi pada jurusannya masing-masing,” paparnya.

Pemilik motto hidup “Hari ini harus lebih baik dari kemarin,” juga mengungkapkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang berpikir tapi juga aplikatifnya. Sebab IPK bukan  jaminan seseorang dapat berkiprah dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat adalah modal penting. Jika seorang mahasiswa IPKnya kecil tapi berhasil membangun relasi yang baik dalam bisnis, politik, atau organisasi lainnya, ditunjang jiwa pemimpin, keterampilan beragumentasi, dan dapat mempengaruhi orang lain, mereka kemungkinan akan sukses,” tandas ayah dari tiga orang anak ini.

Mengenai latar belakang mengajar, lulusan S1 UNPAD jurusan Ekonomi studi pembangunan tahun 1994 dan S2 di ITB Studi pembangunan tahun 2001 yang tengah melanjutkan  S3 di UNPAD pada jurusan ilmu ekonomi ini bercerita bahwa setelah lulus S1 ia mendapatkan beasiswa calon dosen, dan masuk menjadi pengajar di UNPAS.

“Awalnya saya tidak ingin menjadi pengajar, karena seluruh keluarga saya adalah guru. Namun meskipun sudah berupaya menghindar dan karena keinginan orang tua akhirnya saya memasuki dunia pendidikan,”  terangnya.

Setelah mengajar di UNPAS sejak tahun 1995. Kemudian pada tahun 2006 Dikdik menjadi ketua prodi Ekonomi Pembangunan selama dua periode hingga tahun 2011, selanjutnya pada tahun 2015 ia diangkat menjadi wakil dekan III FEB hingga saat ini.

“Sukanya menjadi dosen adalah kebahagiaan saat berbagi pengetahuan dengan mahasiswa. Jadi kepuasan tersendiri. Dari pengalaman sebagai konsultan ekonomi banyak hal yang saya berikan kepada anak-anak di kelas.  Untuk duka yang saya rasakan adalah saat mahasiswa yang kurang bersemangat dalam belajar dan malas. Namun dari semuanya lebih banyak senangnya dalam mengajar,” urainya.

Dosen pengampu Mata kuliah Ekonomi Industri, Ekonomi regional dan perkotaan ini juga berharap bahwa kedepannya ia bisa bersama-sama mewujudkan visi dan misi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

“Semoga kedepannya saya juga bisa memberikan manfaat tidak hanya kepada mahasiwa tapi juga kepada masyarakat. Sebab seperti yang saya maknai bahwa hidup adalah untuk kemanfaatan,” tutupnya. (Tan)

Tags

Related Articles

Close
Close