PASPENDIDIKANTOKOH

Dindin : Wujudkan Mahasiswa Hebat, Intelektual dan Berakhlakul Karimah

*) Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FKIP Unpas

BANDUNG, PASJABAR.COM — Mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan, menjadikan mahasiswa sebagai seseorang yang hebar, ber intelktual dan berakhlakul Karimah menjadi salah satu tujuan Wakil Dekan III Bidang kemahasiswaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan (FKIP Unpas), Drs Dindin Muhammad Zaenal Muhyi M.Pd.

Saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Dindin mengatakan membangun silaturahim dalam menjaga sinergitas dengan berbagai golongan dan komunitas agar memperpanjang usia dan memperbanyak rezeki, maknai dari pengalamannya selama mengajar lebih dari dua puluh tahun di FKIP Universitas Pasundan (UNPAS)

“Saya memiliki motto bermanfaat bagi sesama, salah satu implementasinya adalah dengan menjadi pendidik dengan upaya untuk mewujudkan mahasiswa yang hebat dalam intelektual, spiritual dan berakhlakul karimmaah,” terangnya.

Dindin bercerita,  bahwa ia masuk sebagai mahasiswa S1 di FKIP UNPAS Program Studi Pendidikan dan Bahasa Sastra Indonesia pada tahun 1986.

Kala itu lokasi kampus UNPAS masih bergabung dengan SMA Pasundan 2 dan SPG Pasundan di Jl. Cihampelas.

Saat berkuliah ia pun aktif diberbagai organisasi seperti organisasi kemahasiswaan Senat FKIP Unpas maupun Himpunan Mahasiswa (Himbi) Pendidikan Bahasa Indonesia, menjadi koordinator olah raga dan kesenian di FKIP UNPAS.

Lulus pada tahun 1991, kemudian Dindin diangkat tahun 1994 menjadi dosen pada prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Setelah lulus ia pun diajak Prof. Dr. H. Kosadi Hidayat M. Pd, yang saat itu masih Dr, berlanjut menjadi staf wakil dekan 3 selama lima bulan dan menjadi Sekretaris UPT PPL dan Ketua hampir 8 tahun.

Usai lulus S2 di UPI Program studi pendidikan bahasa Indonesia pada tahun 2011, Dindin pun menjadi sekertaris prodi, dan pada tahun 2019 ini menjadi Wakil Dekan III FKIP.

“Menjadi  wakil dekan III tentu harus menjadi amanah  yang menjadi keberkahan untuk semuanya, saya ingin membawa mahasiswa dapat meningkatkan daya nalar dalam berorganisasi yang terus berkesinambungan,  dengan etika ketimuran,” tandasnya

Mengenai perannya sebagai pendidik sendiri, pria kelahiran Bandung, 8 April 1966 ini juga bercerita bahwa hal yang ia tekankan dalam mengajar adalah bagaimana mensinergikan antara pintar inteletual dan pintar spiritual.

Dimana mahasiswa memiliki koridor yang jelas, mana yang baik dan yang benar, sehingga menumbuhkan karakter yang mulia (ahlakkulkarimnah).  “Mengajar bukan hanya soal mentransfer ilmu, tapi juga bagaimana mengimplemtasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.

Gagalnya sebuah pendidikan, menurut Dindin karena pengajaran hanya fokus pada intelektual tanpa menyeimbangkan dengan spiritual. Beginilah jadinya.

Selain itu, mahasiswa harus mampu mengikuti dan meningkatkan kreatifitas dan inovasi arus perkembangan jaman, itu adalah salah satu hal yang penting. “Kebahagiaan saya dalam mengajar adalah melihat karakter mahasiswa yang baik, dari hal sederhana seperti selalu mengucapkan salam atau melakukan do’a sebelum proses belajar mengajar,” terangnya.

Selain itu, Dindin pun selalu berusaha menciptakan kehangatan dan keakraban dalam pengajaran di kelas lewat berkreasi bersama dengan mahasiswa, semisal dalam membuat sebuah karya.

“Salah satu kegiatan sambung rasa yang dilakukan bersama mahasiswa adalah membuat puisi dan pentas drama. Dan Ternyata dari rasa berbeda dapat menimbulkan keindahan yang sama  dalam puisi yang utuh. Menyenangkan dapat Membangun keindahan dari  perbedaan,” ungkap anak ke 4 dari 5 bersaudara.

Mahasiswa S3 di UPI Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia yang tengah menyelesaikan disertasinya ini pun sempat mengulas bahwa sebelumnya ia tidak memiliki cita-cita menjadi seorang dosen.

“Saya lahir dari keluarga biasa Bapak PNS IKIP sekarang UPI, awalnya saya tertarik  masuk ke fakultas hukum, namun orang tua saya mengarahkan ke fakultas pendidikan, dan setelah dijalani saya nikmati hidup dilingkungan pendidikan,” tambah ayah dari dua orang anak ini.

Sebagai seorang pendidik, Dindin pun ingin mengembalikan kembali makna pendidikan seperti pepatah sunda, yakni filosofi “guru” yang di gugu dan ditiru baik dalam perkataan maupun perbuatannya.

“Saya berharap kedepannya saya dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi bidang kemahasiswaan di FKIP khususnya dan kemahasiswaan secara umum, mampu membangun sinergitas juga solidaritas antara akademik dan kemahasiswaan, menjadikan mahasiswa yang cerdas intelektual dan cerdas spiritual,” pungkasnya mengakhiri perbincangan sore itu.(Tan)

Tags

Related Articles

Close