HEADLINEPASBANDUNG

DPU Bandung Tegaskan Lagi Warga Tak Bangun Rumah Di Bantaran Sungai

BANDUNG, PASJABAR.COM — Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, mengaku sudah mensosialisasikan kepada warga yang tinggal di bantaran sungai, untuk memundurkan bangunannya.

“Kami sudah meminta kepada warga yang tinggal di sepadan sungai untuk memundurkan bangunan sejauh 3 meter dari sungai. Setidak-tidaknya 1 meter lah,” ujar Kepala DPU Kota Bandung Arief Prasetya, kepada wartawan Senin (17/12/2018).

Arief mengatakan, jarak antara garis sepadan sungai dengan bangunan, dibutuhkan agar petugas mudah untuk melakukan operasi dan pemantauan.

Selain itu, lanjut Arief, kirmir sangat tidak baik kalau dijadikan pondasi sungai. Karena tidak akan kuat. “Tekanannya kan tidak hanya dari atas, tapi dari bawah juga,” tambah Arief.

Sayangnya lanjut Arief, sosialisasi dan himbauan agar warga memundurkan bangunannya, tidak serta merta disambut positif oleh warga.

Banyak dari mereka yang enggan memundurkan bangunannya. Terlebih di pemukiman padan penduduk.

Karenanya, yang bisa dilakukan DPU sekarang, hanya menunggu ketika rumah warga ada yang tergerus air sungai.

“Kalau rumah warga sudah roboh karena tergerus air sungai, maka kamu dengan sangat terpaksa meminta mereka mundur. Kalau mereka sudah mundur, baru akan kita tindaklanjuti,” papar Arief.

Tindaklanjut yang Arief maksudkan adalah tanggap darurat, berupa membangun bronjong atau ditahan menggunakan batu. Karena pembangunan dengan permanen baru bisa dilakukan setelah musim hujan berlalu.

“Baru setel‎ah mudim hujannya selsai. Kita membangun kirimir baru, dengan sesuai DED,” tegasnya.

Demikian juga dengan rumah roboh yang ter‎jadi di Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Minggu (16/12) lalu. Ketiga rumah yang roboh tersebut berdiri di pinggir aliran Sungai Citepus.‎

Menurut Arief, sebenarnya ketika rumah tersebut roboh, ‎tidak sedang hujan deras. Namun karena bronjong yang digunakan sebagai fondasi tidak kokoh menyebabkan rumah roboh.

‎”Saya tidak tahu, siapa yang membangun bronjong tersebut. Saat roboh,  yang jebol itu bikan kirimir, melainkan pososnya baru  tanggap darurat. Karenanya  baru berupa bronjong. Selain itu, bronjong dikasih peninggian  pagar, sehingga  pasti bronjong tidak kuat,” papar Arief.

Untuk ketiga rumah tersebut, Arief meminta agar mundur dulu, agar bisa dilakukan tanggapdarurat, untuk kemudian dibangun kirmir.

“Ya mau gimana lagi, kita harus menunggu rumah rboh baru meminta mereka mundur. Kalau ujug-ujug mereka diminta mundur, apa mereka mau,” pungkasnya. (put)‎

Tags

Related Articles

Close