HEADLINEPASPENDIDIKAN

Mahasiswa Teknik Unpas Ini Ingin Bangun Ide Lewat Riset

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Bagi mahasiswa Universitas Pasundan Jurusan Teknik Informatika, bernama lengkap Aria Bisma Wahyutama, hidup adalah menjadi manusia sebaik-baiknya dengan  berguna untuk manusia lain.

Oleh sebab itu ia berharap bisa membantu banyak orang melalui riset yang ia buat, karya-karya yang ia bangun, ide-ide yang ia lahirkan, dan kesempatan-kesempatan yang ia berikan.

Maka tidak salah jika pemuda yang lahir di Bandung, 11 Maret 1998 ini, berhasil menjadi Mahasiswa Berprestasi tingkat Jawa Barat, dan menjadi peserta pertukaran pelajar ke Univesiti Utara Malaysia di Kedah, Malaysia dan juga meraih salah satu IPK tertinggi diantara mahasiswa lain yang juga mengikuti program pertukaran pelajar.

“Untuk kesibukan dan aktivitas saat ini adalah berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika sebagai Koordinator Divisi Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, juga sedang menjadi bagian dari perusahaan startup asli bandung sebagai iOS Developer. Saya juga kerap mengikuti beberapa kegiatan-kegiatan kepemimpinan serta seminar-seminar nasional yang lainnya,” terang pemilik tinggi 157 cm.

Penfavorit warna biru dan penggemar makanan asal jawa seperti krecek dan gudeg ini juga bercerita bahwa ia memiliki banyak hobi seperti bermain musik, menulis, membaca, “ngoprek” apa saja yang ditemui, berorganisasi, berbincang dengan orang.

“Karena saya anak tunggal, sedari kecil saya selalu cenderung sendiri, sehingga membuat saya mencoba untuk menghibur diri sendiri dengan bermain musik, bersosialisasi dengan orang-orang, atau membaca. Sekaligus membuktikan bahwa anak tunggal tidak selalu kesepian dan anak tunggal tidak manja dan bisa melakukan banyak hal,” terangnya.

Aria yang memiliki motto “Excelsior” seperti motto dari kota New York, para penggemar Marvel, dan slogan dari Stan Lee, yang berasal dari bahasa latin dan artinya semakin tinggi ini juga berkata bahwa dalam hidup, kita harus terus belajar, terus berproses, terus berusaha untuk selalu menjadi yang paling atas, dan tidak tertinggal dengan segala kemajuan teknologi yang berkembang semakin pesat ini.

“Cita-cita saya sederhana. Saya ingin menjadi dosen. Saya besar dikeluarga pengajar, membuat saya memiliki ketertarikan yang luar biasa untuk menjadi dosen. Karena menurut saya, dosen berkesempatan untuk memberikan ilmu kepada banyak orang. Menuangkan pengalaman kepada banyak orang. Jika dilakukan dengan benar, ikhlas dan sungguh-sungguh, maka kebaikan dan pahala akan terus mengalir selamanya bahkan sampai akhir hayat. Juga, mengajar menjadi kegiatan yang menurut saya menyenangkan, bukan hanya karena saya bisa mengenal banyak orang, tapi juga saya “terpaksa” untuk terus-menerus belajar dan membuat saya pribadi berkembang dan tidak tertinggal,”paparnya.

Untuk tokoh idola, Aria mengungkapkan bahwa ia mengidolakan sosok kedua orang tuanya. Terutama ibunya, karena terbukti dengan segala kesibukkan mereka mengurus rumah dan mencari nafkah, tapi selalu punya waktu untuk keluarga selalu ada ketika dibutuhkan, dan selalu bisa diandalkan kapanpun. Juga menjadi semangatnya dalam menyelesaikan studi.

“Orang tua juga merupakan sumber inspirasi saya mulai dari cara mereka membagi waktu, cara mereka melihat kehidupan, menyelesaikan masalah, cara berpikir, dan segala hal yang sudah terbukti bisa saya terapkan di kehidupan nyata,” ulasnya.

Aria pun bercerita bahwa hidup yang ia maknai adalah semua tentang memberi dan memberi (give and give) bukan memberi dan menerima (give and take). Karena dengan kata menerima (take) artinya secara tidak langsung kita mengharapkan imbalan atau pamrih. Boleh jadi, jika demikian maka bisa dikatakan bahwa apa yang kita lakukan tidak ikhlas.

“Sehingga menurut hemat saya, hidup adalah cara kita memberikan apapun yang kita punya jika itu untuk kebaikan khalayak umum tanpa mengharapkan balasan atau pamrih. Teruslah untuk selalu menghasilkan karya-karya terbaik untuk bangsa Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu, yang membuat Aria selalu bersemangat dalam menjalani hidup ini adalah fakta bahwa ia adalah laki-laki. Teringat sepenggal lirik dari lagu Iwan Fals yang berjudul Nak yang berbunyi “…duduk sini nak, dekat pada Bapak. Jangan kau ganggu ibumu. Turunlah lepas dari pangkuannya. Engkau lelaki kelak sendiri…”.

Menurutnya, sebagai laki-laki harus bisa terus berjuang untuk masa depannya, harus berjuang untuk kehidupannya, tidak menjadi laki-laki yang manja. Ditambah, biaya sekolah yang tidak sedikit dan sulitnya mencari uang menambah semangatnya untuk terus bersemangat dalam hidup ini.

“Terakhir, saya juga ingin menyampaikan untuk semua orang baik itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, pelajar atau pekerja, bos atau pensiunan, siapapun anda, jangan pernah berhenti, jangan berhenti putus asa, jangan berhenti berjuang untuk melahirkan karya dan kontribusi kepada bangsa Indonesia agar Indonesia lebih baik,” pungkasnya. (Tan)

Tags

Related Articles

Close