HEADLINEPASJABARPASNUSANTARAPASPENDIDIKAN

Paguyuban Pasundan Gelar Deklarasi dan Dialog Kebangsaan

*) Rekatkan Persatuan Pasca Pemilu 2019

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COMPaguyuban Pasundan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar deklarasi silaturahmi dan dialog kebangsaan tokoh dan masyarakat Jawa Barat Pasca Pemilu 2019 pada Rabu (26/6/2019) di Aula Dr. Djoenjoenan Lantai 5 Jalan Sumatra No 41 Bandung.

Acara yang dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai instansi ini pun diisi dengan dialog kebangsaan dari Ketua MUI Jawa Barat Prof. Dr. KH. Rachmat Syefe’i, LC. MA,. Rektor UI Periode 2007-2012 Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri, ketua FKUB Jawa Barat Drs.H.M. Rafany Achyar M.si. serta Akademisi dan Pengamat Hukum Tatanegara Unpas, Dr. Arif Tugiman, SH,. M.Si.

Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Prof. Dr. HM. Didi Turmudzi, M.Si, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk saling bersinergi dalam mempersatukan bangsa.

“Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1913 oleh mahasiswa kedokteran di Batavia, Paguyuban Pasundan telah memiliki misi untuk mengembangkan pendidikan  yamg didalamnya memiliki ruang untuk memiliki penyadaran dalam berbangsa dan bernegara. Mengakui hak bangsa Indonesia dalam kebudayaan dan etnisnya masing-masing,” tandasnya.

Dalam perjalanannya, Paguyuban Pasundan pun mengawal deklarasi sumpah pemuda, berkontribusi dalam menjaga kultur, melakukan perjuangan politik, dan menjaga persatuan Indonesia.

Hal tersebut nampak dari tokoh-tokoh besar Indonesia yang merupakan bagian dari Paguyuban Pasundan seperti Otto Iskandar Dinata, yang merupakan  ketua paguyuban pasundan dan menjadi mentri negara pertama,  kemudian Ir. Djuanda yang merupakan sekjen paguyuban pasudnan dan membuat deklarasi Djuanda yang menyatukan pulau-pulau yang ada di Indonesia.

“Kini, Paguyuban Pasundan pun sudah memiliki berbagai cabang di Indonesia bahkan mancanegara, dan para pengurusnya sudah dilantik seperti di USA, Malaysia, Singapur dan lainnya,” ujar Prof Didi.

Kemajemukan bangsa Indonesia dikatakan Didi merupakan kodrat  dan harus diterima. Meskipun perbedaan di satu pihak bisa menjadi ancaman karena  dapat menyulut  konflik namun disisi lain menjadi kekayaan, keberkahan, kesejahtraan dan kedamaian jika dibina dengan baik.

“Perbedaan perlu kita rajut dengan baik, membangun peradaban Indonesia yang maju meskipun saat ini kita tengah mengalami tantangan yang dahsyat,” terangnya.

Prof Didi melanjutkan bahwa penting menjaga filosofi akur jeung dulur, ngajaga lembur, anceg na galur.

“Akur jeung dulur, yaitu harus  bersahabat dengan yang berbeda agama, budaya maupun ras. Menjaga lembur, adalah menjaga tanah air Indonesia dan menjadi perekat pancasila, serta panceg na galur berarti mengikuti acuan sumber hukum dan kesepakatan yang harus ditaati,” tandasnya.

Prof Didi juga berharap bahwa pasca pilpres 2019 ini negara Indonesia akan tetap aman dan bersatu.  “Apapun keputusan MK dapat disikapi dengan dewasa dan lapang,” pungkasnya. (Tan)

 

Tags

Related Articles

Close
Close