BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Direktur Operasi PT Biofarma M. Rahman Roestan, mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 200 industri farmasi. Tetapi hanya satu industri yang memproduksi vaksin, ialah Biofarma.
Kondisi ini menunjukkan, Indonesia memerlukan beragam penelitian terbaru khususnya di bidang vaksin.
“China punya lebih dari 30 pabrik vaksin, makanya China lebih maju ketika penanganan pandemi. Makanya, ini jadi tugas kita semua. Penanganan pandemi ini tidak bisa bekerja sendiri,” ucapnya seperti dikutip PASJABAR dari laman unpad, Senin (28/3/2022).
Selain minimnya industri vaksin, sambungnya kesadaran masyarakat untuk divaksin pun masih rendah. Banyak orang sehat yang enggan divaksinasi influenza karena harganya yang mahal. Padahal, efektivitas dan efikasi dari vaksin influenza dapat menciptakan imunitas tubuh dari influenza selama setahun.
Di sisi lain, dengan biaya yang sama atau mungkin lebih besar dari biaya vaksin influenza, orang dengan mudah menggunakannya untuk kebutuhan lain. Selain itu, anggapan bahwa vaksinasi bertentangan dengan keyakinan hingga pemahaman keliru tentang vaksin menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang enggan divaksinasi. Kondisi ini memerlukan pendekatan keilmuan lain yang dapat memberikan pemahaman lebih baik dan sederhana mengenai pentingnya vaksinasi.
Rahman melanjutkan, banyak isu-isu tidak benar di masyarakat mengenai vaksin. Hal ini menjadi tugas perguruan tinggi untuk meluruskannya. Rahman mendorong untuk melakukan kegiatan produktif di luar perkuliahan. Riset dan menulis karya ilmiah menjadi aktivitas yang perlu dikerjakan, terutama menuliskan inovasi apa yang sudah dihasilkan perguruan tinggi. (*/ytn)












