PASPENDIDIKAN

Program MBKM Dapat Respons Positif dari Mahasiswa

ADVERTISEMENT

MINAHASA, WWW.PASJABAR.COM — Kebijakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menerima respons positif dari civitas akademika di Universitas Negeri Manado (Unima).

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mendengarkan cerita sekaligus masukan dari mahasiswa mengenai program MBKM. Ia memotivasi para mahasiswa agar jangan mudah menyerah dalam mendaftar dan menjalani program MBKM.

“Apa pun tantangannya, jangan biarkan pengalaman sekali dalam seumur hidup di program MBKM jadi tertelantarkan hanya karena cengeng,” katanya di Aula Training Center Unima, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Dilansir dari laman kemdikbud.go.id pada Minggu (8/1/2023), Mendikbudristek mengatakan, program MBKM memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman di dunia nyata.

“Mahasiswa jadi berlatih untuk lebih percaya diri, keluar dari zona nyaman, dan melakukan kolaborasi dengan pihak lain,” ujarnya.

Mahasiswa Unima jadi Tenaga Pengajar

Hal tersebut diakui oleh Christy Rombon, mahasiswa program studi Psikologi Unima yang menjadi peserta program Kampus Mengajar angkatan 4. Christy menjadi tenaga pengajar di SD Katolik 1 Taratara, Kota Tomohon, selama kurang lebih lima bulan bersama mahasiswa dari program studi lain di dalam satu kelompok.

“Menurut saya yang jadi pelajaran terbesar adalah karena baru kali itu saya bisa bertemu dengan orang luar dan beradaptasi. Bahkan di dalam satu kelompok itu kami berbeda-beda. Jadi kalau ada pemikiran yang berbeda, lalu kita coba satukan,” tutur Christy.

Salah satu hal yang memotivasinya untuk mengikuti program Kampus Mengajar adalah karena ia bukan dari program studi pendidikan dan ingin belajar serta mendapatkan pengalaman mengajar anak-anak.

“Saya juga mau berusaha keluar dari zona nyaman. Mencoba bertemu dengan anak-anak. Yang utama sebenarnya ingin belajar parenting karena berhubungan dengan program studi saya, Psikologi. Di Kampus Mengajar pasti kita bertemu dengan anak-anak. Puji Tuhan saya bisa belajar dari mereka,” katanya.

Selama mengikuti program Kampus Mengajar, Christy dan teman-temannya mengajarkan materi mengenai adaptasi teknologi, bantuan administrasi, dan yang paling utama adalah mengajar siswa SD dengan fokus pada literasi dan numerasi.

Menurutnya, program MBKM sudah berjalan dengan baik karena sudah rutin berjalan setiap tahun di Unima

“Dari teman-teman saya yang ikut program MBKM lain, mereka juga enjoy dengan program-programnya. Misalnya teman saya yang ikut Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), mereka enjoy dan bisa berbagi dengan kami tentang apa saja yang dilakukan di sana,” ujarnya.

Praktik Baik MBKM: Penyesuaian Kurikulum Hingga Kemitraan dengan Industri

Selama menjalani program MBKM, mahasiswa didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL) yang bertugas membina dan mengawasi pelaksanaan program. Salah satu DPL di Unima yang kerap mendampingi mahasiswa program MBKM adalah Alfrina Mewengkang, Ketua Jurusan Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Alfrina pernah menjadi DPL untuk program Kampus Mengajar angkatan 1 dan 2 serta program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB).

“Jadi di Kampus Mengajar, kita mengantarkan mahasiswa ke dinas pendidikan dan ke sekolah. Kemudian memantau mereka melalui logbook harian dan laporan mingguan,” katanya.

Saat mendampingi mahasiswa program MSIB, Alfrina mendampingi sejak mahasiswa ditetapkan lulus sebagai peserta untuk mengetahui apa kurikulum yang akan didapatkan dari mahasiswa yang mengikuti program MSIB. “Itu nanti berhubungan dengan konversi SKS. Jadi kami diundang mitra kemudian rapat bersama,” ujarnya.

Alfrina mengatakan, mahasiswa yang lulus program flagship MBKM di Unima paling banyak berasal dari jurusan Jurusan Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Alfrina mengaku sudah memiliki strategi khusus untuk itu. Mahasiswa angkatan 2020, lanjutnya, sejak semester 5 sudah memilih program MBKM yang dinginkan, misalnya mengambil mata kuliah yang lintas prodi, MSIB, atau Kampus Mengajar.

“Apa saja saya bebaskan. Karena memang kurikulumnya kami sesuaikan. Jadi pas Mendikbudristek mau menerbitkan peraturan menteri, langsung kami godok kurikulumnya, sehingga mahasiswa di 4 semester awal materinya sudah dipadatkan. Jadi saat semester 5 mereka mau ke mana saja dan di mana saja sudah punya pegangan,” kata Alfrina.

Tidak hanya itu, Alfrina juga menjalin jejaring dengan mitra industri untuk program MBKM. Apalagi ia juga merupakan koordinator di Unima untuk Indikator Kinerja Utama (IKU) nomor 2 terkait prestasi dan MBKM. “Jadi bukan hanya di jurusan saya, tapi di tingkat universitas. Saya juga berusaha untuk mencari mitra. Akhirnya semua mitra kenal saya,” ujarnya. (*/ran)

Nurrani Rusmana

Recent Posts

Bocah 4 Tahun Tertimpa Reruntuhan karena Gempa, Kang DS Sampaikan Duka

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Fauzan,…

11 menit ago

BNPB Ajak Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman Gempa

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Masyarakat yang terkena dampak gempa M4,9 diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi…

41 menit ago

Guru Besar Hanya Nama (GBHN)

Oleh: Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Dalam…

1 jam ago

Pelantikan Pj Wali Kota Bandung: A Koswara Siap Lanjutkan Program Kerja

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin, telah melantik A Koswara…

2 jam ago

Pestapora 2024: Pertamina Fastron Hadirkan Edukasi Otomotif di Tengah Festival Musik

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Pertamina Fastron siap memeriahkan festival musik Pestapora 2024, yang akan diadakan di…

2 jam ago

Harga Pangan Naik: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp46.000 per Kg

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Harga beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan pada Jumat (20/9/2024) pagi. Dilansir dari…

3 jam ago