BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Hari Raya Nyepi 2025 akan dirayakan pada Sabtu, 29 Maret. Bagi umat Hindu, perayaan ini memiliki makna mendalam sebagai momen refleksi, penyucian diri, serta menjaga keseimbangan alam semesta.
Tahun ini, Nyepi 2025 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, mengingatkan pentingnya toleransi antarumat beragama. Dan saling menghormati ibadah masing-masing.
Persiapan Menjelang Nyepi
Menjelang Hari Raya Nyepi 2025, umat Hindu mulai melakukan berbagai persiapan untuk rangkaian ritual keagamaan. Seperti Melasti, Tawur Kesanga, dan pawai Ogoh-ogoh.
Di Pura Agung Wira Loka Natha, Kota Cimahi, Jawa Barat, umat Hindu tampak mempersiapkan diri menyambut hari suci ini dengan khusyuk.
Setiap ritual dalam rangkaian Nyepi memiliki makna tersendiri, seperti:
- Melasti untuk menyucikan diri dan lingkungan.
- Tawur Kesanga sebagai upaya menyeimbangkan energi alam dan mengusir pengaruh buruk.
- Pawai Ogoh-ogoh sebagai simbol pembersihan dari sifat negatif sebelum memasuki hari keheningan.
Makna Nyepi dan Refleksi Diri
Pada hari Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yang meliputi:
- Amati Geni – tidak menyalakan api atau perangkat elektronik.
- Amati Lelungan – tidak bepergian.
- Amati Karya – tidak bekerja.
- Amati Lelanguan – tidak menikmati hiburan.
Menurut Kadek Pradnyastiti Trivia Suraga, seorang pemeluk Hindu, Nyepi adalah momen sakral untuk penyucian diri dan menjaga keseimbangan alam.
“Nyepi menjadi momen melakukan penyucian diri dan menjaga keseimbangan alam semesta,” ujarnya.
Setelah Nyepi, umat Hindu merayakan Ngembak Geni, yang menjadi momen untuk saling memaafkan dan memulai kehidupan baru dengan lebih baik.
Dengan bertepatan pada bulan Ramadhan, Nyepi tahun ini menjadi pengingat kuat tentang pentingnya kerukunan. Dan saling menghormati antarumat beragama di Indonesia. (rif)