
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan (Prinsip Komunikasi dalam Islam dalam buku Wawasan Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Komunikasi dalam Islam terdiri atas komunikasi dengan Allah, komunikasi dengan sesama manusia, dan komunikasi dengan alam.
Komunikasi dalam Islam khususnya dengan Allah dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Hubungan langsung melalui zikir dan shalat. Setiap zikir adalah komunikasi langsung dengan Allah, sebagaimana firman-Nya:
“… ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 152)
Dampak dari komunikasi ini melahirkan ketenangan batin yang dirasakan oleh orang yang zikir. Firman Allah SWT.:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati akan tentram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13] : 28)
Komunikasi dengan Allah secara langsung dilakukan pula melalui kegiatan ritual, seperti shalat. Seseorang yang mendirikan shalat dengan khusyuk akan merasakan terjadinya dialog dengan Allah. Bagi orang yang shalat dengan khusyuk, ia akan merasakan bahwa Allah hadir dan begitu dekat, sehingga akan berpengaruh dan berdampak kuat pada kondisi orang yang bersangkutan di luar shalat. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah (dari perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Q.S. Al-Ankabut [29] : 45)
Komunikasi dengan Allah pada dasarnya merupakan momentum untuk menyegarkan iman dan mendorong semangat hidup manusia sehingga ia mampu melaksanakan kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya.
Awal Rasulullah Berkomunikasi
Dalam melakukan komunikasi, Rasulullah mengawalinya dengan khalwat di Gua Hira yang dapat digambarkan dengan zikir. Selanjutnya, melalui wahyu yang turun dan mencapai puncaknya pada peristiwa Isra Mi’raj.
Dampak dari komunikasi dengan Allah itu digambarkan dalam Al-Quran sebagai salah satu ciri orang yang beriman.
“Apabila disebut nama Allah, maka bergetarlah hari mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah imannya, dan hanya kepada Tuhan merekalah, berserah diri.” (Q.S. Al-Anfal [8] : 2)
Dalam ayat di atas tampak juga bahwa ingat kepada Allah berpengaruh pada jiwa orang yang mengingatnya. Demikian pula ketika ayat-ayat Allah dibacakan, ia akan bertambah imannya.
Komunikasi dalam Islam, seorang muslim yang membaca Al-Quran akan merasakan komunikasi yang sangat intens dengan Allah. Bahkan, komunikasinya dapat terjadi dalam tiga arah, yaitu komunikasi pembaca dengan Allah dan dengan dirinya sendiri. Bacaan itu akan berpengaruh dan membentuk perubahan sikap yang lahir dari suatu proses penyadaran diri.
Komunikasi Secara Tidak Langsung dengan Allah dan Komunikasi dengan Sesama Manusia
Adapun komunikasi dengan Allah secara tidak langsung dilakukan dengan melihat dan memperhatikan alam ketika suatu fenomena alam memberikan pengertian tentang kemahakuasaan Allah, menyentuh hati dan membangkitkan kesadaran diri. Di situlah terjadi komunikasi. Dalam komunikasi melalui alam ini pada dasarnya terjadi dialog antara seseorang dan Allah sehingga ia akan memahami banyak hal tentang alam dan juga kesadaran tentang Allah. Komunikasi semacam ini banyak disebut dalam Al-Quran dan selalu dikaitkan dengan kemahakuasaan Allah.
Komunikasi secara tidak langsung dilakukan pula dengan cara terus menerus menjalin komunikasi walaupun tidak pada waktu dan tempat yang khusus. Hal ini dilakukan dengan mempertautkan hati dengan Allah SWT dalam aktivitas apa saja yang dilakukan seseorang. Komunikasi ini melahirkan makna aktivitas itu menjadi ibadah, sekaligus menghindari pelanggaran terhadap larangan Allah SWT.
Adapun komunikasi dengan sesama manusia dilakukan melalui bahasa dan isyarat sebagai alat ungkapannya dan lingkungan sebagai media penunjangnya. Isyarat-isyarat badaniyah lebih banyak kegunaannya dibandingkan dengan bahasa yang menggunakan kata-kata. Lingkungan digunakan sebagai faktor pembuat suasana untuk memperkuat makna komunikasi sehingga pesan yang disampaikan bukan hanya dimengerti, tetapi juga dihayati dan selanjutnya mengubah perilaku penerima pesan. Komunikasi seperti ini diajarkan oleh Al-Quran atau Sunnah Rasul, antara lain berikut ini.
-
Segi Bahasa
“Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah itu suatu kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman [31] : 13)
Untuk menyebut dan memanggil anak, dalam ayat tersebut digunakan kata “ya bunayya” (wahai anakku), bukan “ya walidi” (wahai anakku). Perbedaan kedua kata tersebut terletak pada isi dan nuansanya.
Kata “Ya bunayya” mengandung nuansa kasih sayang yang tidak terdapat pada kata “Ya walidi”. Di samping itu, “ya bunaya” tidak hanya diarahkan pada pendengaran. tetapi jauh menusuk hati dan perasaannya. Pesan yang disampaikan tidak hanya sampai pada pengertian atau pemahaman. tetapi juga sampai pada kesadaran yang kemudian mengubah dan membentuk perilaku.
Pesan yang disampaikan tidak hanya dengan cara informatif, tetapi diberi tekanan dan diperkuat sehingga dampaknya sangat kuat dalam membentuk perilaku. Dalam ayat di atas hal tersebut diungkapkan dalam bentuk pemberian kata penguat (taukid), yaitu “inna” (sesungguhnya), dan huruf “Lam” untuk penguat yang artinya sungguh. Kata penguat itu membangkitkan perhatian pada pesan bahwa pesan tersebut sangat penting dan tidak boleh diabaikan.
-
Segi Lingkungan
“Sederhanakanlah jalanmu dan rendahkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara himar.” (Q.S. Luqman [31] : 19)
Lingkungan yang digunakan dalam komunikasi ini adalah himar atau keledai, yaitu sejenis binatang mirip kuda yang sangat akrab bagi masyarakat Arab. Ketika ayat itu turun dengan mengambil lingkungan sebagai media perumpamaan, pesan yang dikomunikasikan segera dapat dipahami dan dihayati oleh umat pada saat itu. Esensi pesan yang disampaikan adalah bahwa seseorang tidak boleh sombong dan berbicara buruk.
Untuk memahami pesan Al-Quran di atas, komunikasi hendaknya menggunakan bahasa dan kata-kata yang tepat dan disesuaikan dengan pemahaman dan pengalaman orang yang diajak bicara disebut apersepsi atau field experience. Efektivitas komunikasi ini disebutkan pula dalam hadis Nabi dengan istilah bigadri ‘uqulihim‘ (atas dasar kemampuan akalnya), “Khathibunnas biqadri ‘uqulihim (ajaklah manusia itu berbicara, sesuai dengan kemampuan akalnya). (han)









