www.pasjabar.com — Francesco Bagnaia akhirnya mulai menemukan titik terang atas performa inkonsisten yang ia alami pada awal musim MotoGP 2025. Pembalap Ducati Lenovo itu menyadari bahwa kunci untuk kembali kompetitif bukanlah mengubah motor, melainkan dirinya yang harus beradaptasi dengan karakter motor terbaru Ducati.
Adaptasi Jadi Kunci, Bukan Lagi Perubahan Motor
Dalam sesi Practice MotoGP Prancis 2025 yang digelar di Sirkuit Bugatti, Le Mans, Bagnaia mencatatkan waktu 1 menit 30,039 detik dan finis di posisi ketiga.
Hasil ini membuatnya sedikit lebih optimistis meskipun tidak sepenuhnya puas.
“Setelah enam seri, saya akhirnya paham bahwa motor ini tidak bisa memberikan performa yang saya butuhkan seperti sebelumnya,” ujar Bagnaia.
“Jadi saya harus mencari cara lain, dan itu berarti saya sendiri yang harus beradaptasi.”
Bagnaia juga mengungkap bahwa dirinya sudah mencoba berbagai hal untuk meningkatkan performa, termasuk fokus pada pengereman yang lebih stabil.
Meski merasa tidak nyaman, ia menerima bahwa perubahan ini adalah satu-satunya jalan agar tetap kompetitif di lintasan.
Kecewa, Tapi Tetap Optimis Jalani Musim
Juara dunia dua kali ini mengakui bahwa perubahan besar pada motor membuatnya tak lagi bisa memanfaatkan kekuatan utamanya, yakni pengereman saat memasuki tikungan.
Sejak 2020, gaya balap Bagnaia sangat bergantung pada aspek tersebut, dan kini ia merasa kehilangan sebagian besar keunggulan itu.
“Sayang sekali saya tidak bisa lagi mengerem seperti dulu,” ucap Bagnaia.
“Tapi saya harus menerima kenyataan ini. Ini bukan hal yang mudah, tapi itulah MotoGP—terkadang Anda harus berubah.”
Bagnaia juga menegaskan bahwa kembali menggunakan motor musim lalu, GP24, bukanlah solusi.
Ia percaya bahwa tim Ducati sudah memilih arah teknis yang tidak bisa diubah lagi, dan ia hanya bisa menyesuaikan diri sebaik mungkin.
Masih Mengejar Kemenangan yang Sempurna
Hingga kini, Bagnaia baru mencatat satu kemenangan, yakni di MotoGP Americas 2025. Namun, kemenangan itu tidak sepenuhnya memuaskan karena Marc Marquez—yang tampil paling cepat—terjatuh dan gagal finis.
“Saya menang di Austin, tapi rasanya kurang lengkap karena pembalap tercepat saat itu, Marc, keluar dari balapan,” ujarnya. “Saya ingin menang dengan mengalahkan yang terbaik di lintasan.”
Ambisi Bagnaia jelas: bangkit bukan hanya untuk menang, tapi menang dengan cara yang meyakinkan.
Dengan kejujuran dan keteguhan adaptasi, ia menunjukkan mentalitas seorang juara sejati meskipun tantangan teknis terus membayangi.












