www.pasjabar.com — Sebuah kisah ironis tersaji dalam final Coppa Italia 2025. Bologna sukses menjuarai turnamen setelah mengalahkan AC Milan 1-0 di Stadion Olimpico, Roma, Rabu (14/5/2025). Yang membuat hasil ini semakin pahit bagi Milan adalah sosok Davide Calabria mantan kapten mereka yang kini berseragam Bologna dan ikut merayakan gelar juara.
Tak hanya itu, Davide Calabria menjadi satu-satunya pemain yang meraih dua trofi domestik musim ini: Piala Super Italia bersama Milan dan Coppa Italia bersama Bologna.
Gelar ini seharusnya bisa menjadi bagian dari “mini doblete” Milan setelah mereka mengalahkan Inter Milan 3-2 di final Piala Super Italia pada Januari lalu.
Namun, ambisi menyandingkan dua gelar pupus oleh gol tunggal Dan Ndoye di final Coppa Italia. Sebaliknya, Calabria yang dibuang ke Bologna justru sukses membawa klub asal Emilia-Romagna tersebut menorehkan sejarah.
Dibuang Karena Konser, Kini Jadi Pahlawan Bologna
Calabria dibuang oleh AC Milan pada awal Februari 2025 setelah terlibat konflik dengan pelatih Sergio Conceicao.
Masalah bermula ketika Calabria kedapatan menghadiri konser sehari sebelum laga penting melawan Parma.
Meskipun Milan menang secara dramatis, tensi memanas di ruang ganti hingga nyaris terjadi baku hantam antara pemain berusia 28 tahun itu dan Conceicao.
Tak lama kemudian, Calabria dilepas ke Bologna. Meski sempat diragukan, dirinya justru membuktikan kualitas dengan tampil konsisten dan turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Bologna menuju final Coppa Italia.
Dalam laga pamungkas, ia masuk sebagai pemain pengganti menit ke-76, membantu mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir.
Conceicao Marah, Calabria Tersenyum
Momen penuh drama terjadi selepas pertandingan. Saat para pemain Bologna berbaris menerima penghargaan, kamera menangkap Conceicao berjalan melewati Calabria tanpa menyapanya.
Raut wajah pelatih Milan itu terlihat kesal sambil menggumamkan sesuatu. Sebaliknya, Calabria tampak tersenyum bahagia, merayakan momen bersejarah dalam kariernya.
Keberhasilan Calabria menjadi simbol kegagalan Milan musim ini. Saat mantan pemain mereka mengangkat trofi, Rossoneri justru berpotensi gagal tampil di kompetisi Eropa musim depan.
Gelar Piala Super Italia tampak tidak cukup menyelamatkan musim yang diliputi kontroversi dan ketegangan internal.












