WWW.PASJABAR.COM – Multiple sclerosis (MS) merupakan penyakit neurologis progresif yang terjadi akibat kerusakan pada selubung mielin, lapisan pelindung serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang.
Kondisi ini dapat memicu beragam gejala serius, mulai dari gangguan penglihatan hingga penurunan fungsi kognitif.
Dikutip dari Hindustan Times, dilansir dari Antara, dokter saraf dari Rumah Sakit Yashoda, Dr. Bharath Kumar Surisetti menjelaskan. Bahwa mengenali gejala awal MS sangat penting untuk mempercepat diagnosis dan penanganan yang tepat.
Meski gejala MS bervariasi dalam jenis, intensitas, dan durasi, deteksi dini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan.
“Karena gejalanya sangat bervariasi, deteksi dini bisa menjadi tantangan. Namun, mengenali tanda-tanda awal tertentu dapat membantu memastikan diagnosis yang cepat. Dan penanganan yang tepat,” ujar Dr. Bharath.
Salah satu gejala paling awal dan umum adalah masalah penglihatan atau neuritis optik. Penderita biasanya merasakan nyeri dan penglihatan kabur pada salah satu mata.
Dalam beberapa kasus, pasien juga mengalami penglihatan ganda, buta warna, atau gerakan mata tak terkendali (nistagmus).
Gejala lain yang sering muncul adalah disestesia, yaitu sensasi abnormal. Seperti adanya ikatan yang mengencang di sekitar dada atau perut.
Sensasi ini sering disamakan dengan tekanan dari manset alat pengukur tekanan darah. Dan disebabkan oleh iritasi saraf di sumsum tulang belakang.
Dampak Lainnya
Dr. Bharath menyebutkan, sekitar 80 persen pasien MS mengalami gangguan fungsi kandung kemih. Seperti dorongan buang air kecil yang mendesak, frekuensi tinggi, inkontinensia. Atau kesulitan mengosongkan kandung kemih secara tuntas.
Masalah pada fungsi usus seperti sembelit, diare, atau hilangnya kontrol juga dapat muncul. Meski dapat diatasi dengan pola makan, hidrasi, dan pengobatan yang sesuai.
Kelelahan ekstrem menjadi salah satu gejala paling mengganggu yang dialami sebagian besar penderita MS.
Kelelahan ini cenderung memburuk saat cuaca panas atau ketika melakukan aktivitas fisik. Dan sering kali tetap muncul meski pasien telah cukup beristirahat.
“Selain itu, hampir 50 persen penderita juga mengalami perubahan kognitif, seperti kesulitan mengingat, menurunnya kemampuan memperhatikan. Serta gangguan dalam memproses informasi, bahasa, dan perencanaan,” katanya.
Gangguan mobilitas juga umum terjadi. Kelemahan pada kaki, spastisitas. Serta gangguan sensorik menyebabkan penderita kesulitan berjalan dan menjaga keseimbangan.
Nyeri akibat gangguan saraf turut menyebabkan perubahan gaya berjalan yang berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.
Tak hanya fisik, MS juga memengaruhi aspek emosional dan seksual. Kerusakan saraf dapat menurunkan fungsi seksual dan memicu kecemasan. Yang pada gilirannya memperburuk kondisi pasien.
Gejala lain yang juga perlu diwaspadai adalah pusing atau sensasi berputar (vertigo). Akibat lesi pada area otak yang mengontrol keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Dengan berbagai gejala yang kompleks dan berdampak luas, Dr. Bharath menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap multiple sclerosis.
Diagnosis dini dan pengelolaan medis yang tepat dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit. Serta meningkatkan kualitas hidup penderita. (han)









