WWW.PASJABAR.COM – Nama David Coote dulu akrab terdengar di telinga para penggemar sepak bola Inggris. Sebagai wasit Premier League, ia pernah memimpin lebih dari 100 pertandingan kelas atas.
Namun kini, hidupnya berubah drastis: pria 42 tahun itu terlihat mengantar paket sebagai kurir untuk perusahaan logistik Evri.
Perubahan jalan hidup ini terjadi setelah skandal besar yang mengguncang kariernya. Pada November 2024, dua video viral membuat reputasi Coote hancur.
Video pertama menunjukkan dirinya menghina Liverpool dan mantan manajernya, Jürgen Klopp. Tak lama berselang, video kedua memperlihatkan Coote tengah mengisap zat terlarang di sebuah kamar hotel saat bertugas di ajang Euro 2024.
Akibatnya, Coote diberhentikan oleh badan wasit profesional Inggris, PGMOL, pada Desember 2024.
UEFA pun turut menjatuhkan sanksi berat: larangan terlibat di seluruh kompetisi Eropa selama 16 bulan karena dianggap mencoreng citra sepak bola.
Investigasi terkait dugaan keterlibatan dalam aktivitas taruhan juga sempat membayangi, meski Coote membantah keras.
Terekam Kamera Sedang Antar Paket
Setelah sekian lama menghilang dari sorotan, sosok Coote kembali mencuat dari sebuah rekaman kamera bel pintu.
Ia tampak mengantarkan paket ke rumah warga di Newark, Nottinghamshire, wilayah tempat ia dibesarkan. Kepada media, Coote akhirnya angkat bicara.
“Saya hanya berusaha menjalani hidup secara jujur. Ini bukan karier jangka panjang, tapi saya ingin tetap sibuk. Menikmati waktu bersama keluarga dan teman, dan mencoba membangun kembali rasa tanggung jawab,” katanya.
Respons publik pun beragam. Salah satu warga yang menerima paket darinya mengaku terkejut.
“Suami saya fans berat Liverpool, jadi dia langsung mengenali siapa yang datang. Dia bilang, ‘Itu kan wasit yang dulu ngomong kasar soal Klopp.’ Saya cuma bisa bilang, ‘Seriusan?’ Tapi ya, itu memang akibat dari perbuatannya sendiri,” ujarnya.
Perjalanan Coote dari panggung megah Premier League ke pekerjaan kurir memang mengejutkan banyak orang. Namun, di tengah kejatuhan dan tekanan publik, ia memilih untuk tidak menyerah.
“Saya ingin move on dan membangun kembali hidup saya,” ungkapnya singkat.
Kini, alih-alih meniup peluit di stadion, Coote mengetuk pintu-pintu rumah sebagai bagian dari rutinitas barunya. Sebuah ironi yang menunjukkan bahwa bahkan dalam dunia sepak bola, tak ada yang abadi. (han)












