Bandung, www.pasjabar.com — Bandung Zoo tengah dilanda krisis yang meresahkan. Seekor siamang jantan bernama Mazda mengalami trauma berat usai insiden sengatan listrik, sementara tujuh satwa lain dilaporkan mati sejak Maret 2025. Konflik internal dan kekacauan manajemen menjadi akar masalah konservasi yang kini terabaikan.
Siamang Trauma, Dua Hari Tak Makan Usai Tersengat Listrik
Derita tak kasat mata kini menyelimuti kandang primata di Bandung Zoo. Seekor siamang jantan bernama Mazda, berusia 12 tahun, mengalami trauma berat sejak tersengat pagar listrik dan tercebur ke kolam saat dipaksa keluar ke kandang exhibit pada Senin (9/6/2025).
Sejak kejadian itu, ia menolak turun dari pohon, tak makan, tak minum, dan menunjukkan gejala stres berat.
“Dia jatuh, kena pagar kejut, terus masuk kolam. Sejak itu, dia tak mau sentuh tanah. Sudah dua hari dia mogok makan,” ujar salah satu sumber lapangan, Kamis (12/6).
Mazda yang biasanya kembali ke kandang tidur setiap sore, kini enggan mengikuti rutinitas harian.
Insiden ini diduga merupakan buntut dari tindakan eksperimen oleh seorang keeper senior yang tergabung dalam manajemen baru di bawah kendali Taman Safari Indonesia (TSI), yang resmi mengambil alih pengelolaan Bandung Zoo per 20 Maret 2025.
Tujuh Satwa Mati, Manajemen Dituding Tak Transparan
Masalah Mazda hanyalah satu dari rangkaian kekacauan di balik jeruji kebun binatang legendaris di Jawa Barat ini.
Sejak pengambilalihan oleh TSI, setidaknya tujuh satwa dari berbagai spesies dilaporkan mati. Ironisnya, empat kematian terjadi dalam rentang waktu berdekatan antara Mei hingga awal Juni.
Hingga kini, tak ada penjelasan resmi yang transparan dari manajemen gabungan terkait penyebab kematian satwa-satwa tersebut.
Hal ini memicu kekhawatiran publik, terutama para pegiat konservasi dan mantan pegawai internal, yang menilai ada ketidaksiapan dalam sistem pengelolaan dan perawatan hewan.
“Ini bukan soal ego antar pihak manajemen. Ini soal nyawa. Satwa-satwa itu adalah korban dari kekacauan sistem dan kurangnya koordinasi,” ujar sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dualisme Kepemimpinan, Konservasi Jadi Korban
Sejak TSI masuk, struktur organisasi di tubuh Bandung Zoo berubah. TSI membawa general manager, tim operasional baru, hingga vendor keamanan sendiri.
Namun, manajemen lama masih aktif menjalankan struktur serupa. Akibatnya, terjadi dualisme kepemimpinan yang memicu benturan wewenang dalam pengelolaan harian.
Ketiadaan komunikasi yang jelas antara dua kubu berdampak langsung pada kehidupan para satwa.
Ketidakjelasan prosedur, tumpang tindih instruksi, hingga konflik kepentingan membuat fungsi konservasi yang seharusnya menjadi fokus utama justru terabaikan.
Mazda, siamang yang kini enggan turun dari pohon, menjadi simbol penderitaan yang mencerminkan kegagalan tata kelola konservasi di Bandung Zoo.
Ia bukan hanya korban insiden, melainkan representasi dari sistem yang tak berjalan sebagaimana mestinya.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak TSI maupun manajemen lama terkait kondisi Mazda dan daftar kematian satwa.
Namun desakan publik akan transparansi dan penyelidikan mendalam kian menguat. Jika dibiarkan, Bandung Zoo bisa kehilangan bukan hanya satwanya, tapi juga kepercayaan masyarakat.












