WWW.PASJABAR.COM – Leicester City resmi mengakhiri kerja sama dengan manajer Ruud van Nistelrooy pada Jumat (27/6/2025), menyusul kegagalan klub bertahan di Premier League musim 2024/25.
Pemutusan kontrak ini disepakati secara mutual dan menutup masa kepemimpinan Van Nistelrooy yang berlangsung kurang dari satu musim.
Van Nistelrooy ditunjuk sebagai pelatih The Foxes pada November 2024 menggantikan Steve Cooper. Namun, meski sempat membawa harapan di awal masa jabatannya, performa tim justru kian menurun.
Dari 27 pertandingan liga, Leicester hanya mengantongi lima kemenangan, tiga hasil imbang, dan menelan 19 kekalahan. Mereka akhirnya finis di posisi ke-18 dan harus terdegradasi dengan selisih 10 poin dari zona aman.
Yang paling mencolok dari masa jabatan Van Nistelrooy adalah catatan sembilan kekalahan kandang beruntun tanpa mencetak satu gol pun—rekor terburuk sepanjang sejarah Premier League.
Kekalahan 0-1 dari Liverpool pada 20 April menjadi penentu degradasi dan menambah daftar panjang hasil mengecewakan yang dialami klub.
Ucapan Perpisahan Van Nistelrooy
Dalam pernyataan resmi klub, Ruud van Nistelrooy menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh elemen Leicester.
“Saya ingin secara pribadi berterima kasih kepada para pemain, pelatih, akademi, dan semua staf Leicester City atas profesionalisme dan dedikasi mereka selama saya di klub, serta kepada para penggemar atas dukungan mereka. Saya mendoakan yang terbaik untuk klub di masa depan,” ujarnya.
Kepergian Van Nistelrooy menjadi catatan penting dalam tahun penuh gejolak bagi Leicester. Klub kini bersiap menghadapi musim baru di Championship yang dimulai pada 10 Agustus melawan Sheffield Wednesday.
Staf pelatih utama akan memimpin sesi pramusim yang dimulai 30 Juni sembari menunggu pelatih baru.
Beberapa nama masuk radar klub untuk mengisi kursi pelatih, termasuk Sean Dyche (eks Everton dan Burnley) serta Danny Röhl yang saat ini membesut Sheffield Wednesday.
Sementara itu, dua asisten Van Nistelrooy—Brian Barry-Murphy dan Jelle ten Rouwelaar—dilaporkan akan bergabung dengan Cardiff City dan Brighton.
Evaluasi dan Kritik Terhadap Proses Keputusan
Meski keputusan pemutusan kontrak sudah lama diprediksi, banyak pihak mempertanyakan waktu dan cara penanganannya. Relegasi Leicester dikonfirmasi sejak April, namun kepastian mengenai masa depan Ruud van Nistelrooy baru diumumkan lebih dari dua bulan kemudian.
Komentator BBC Radio Leicester, Owynn Palmer-Atkin, menyebut situasi ini sebagai “bukan soal apakah, tapi kapan” dan menilai klub terlambat memberi kejelasan kepada publik.
Sebagai catatan, ini menjadi kali keempat Leicester mengganti pelatih dalam 12 bulan terakhir. Menandakan ketidakstabilan yang harus segera dibenahi.
Leicester tak hanya menghadapi tantangan membangun kembali skuad di bawah pelatih baru. Tapi juga bayang-bayang potensi sanksi poin akibat dugaan pelanggaran aturan keuangan EFL.
Dengan waktu persiapan yang terbatas, setiap keputusan harus diambil cepat dan tepat.
Kepergian Van Nistelrooy mungkin menandai akhir dari salah satu era singkat terburuk dalam sejarah klub. Tetapi juga membuka pintu bagi awal yang lebih baik.
Dengan basis suporter yang loyal dan sejarah sebagai juara Premier League 2016, The Foxes kini menatap jalan panjang. Untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Inggris. (han)












