BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pasundan (Unpas) melalui Kabinet Tegar Berdikari sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “Perang Iran vs Israel: Memahami Konflik dan Membangun Perspektif Mahasiswa” di Aula Gelanggang Generasi Muda (GGM), Kota Bandung, Kamis (26/6/2025).
Seminar ini digelar sebagai respons atas meningkatnya eskalasi konflik Iran dan Israel yang tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Tetapi juga memengaruhi tatanan global, termasuk nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas internasional.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Yoga Tadiyalga Rapatror, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unpas, menyatakan bahwa seminar ini adalah bentuk kontribusi mahasiswa Unpas dalam merespons isu global secara akademis dan humanis.
“Kami ingin menjadikan ruang akademik sebagai tempat belajar, berdiskusi, dan menyuarakan kepedulian terhadap kemanusiaan,” ujarnya, dilansir dari unpas.ac.id.
Bahas Konflik Global dan Relevansi Lokal
Seminar menghadirkan lima narasumber dari kalangan akademisi dan aktivis:
- Prof. Dr. Anton Minardi, S.IP., S.H., M.Ag. (Dosen HI Unpas)
- Tino Rila Sebayang, S.IP., M.Si. (Founder AnthroIndonesia)
- Wimi Tohari Danieladi (Dosen HI Universitas Komputer Indonesia)
- Rakha Al-Ghifari Gudiman (Menteri Kastrat BEM Unpas)
- Ridho Dawam Muklillah (Co-Founder Forum Judul Literasi)
Diskusi dipandu oleh Aurora Mutiara Burhanudin, mahasiswi Prodi Akuntansi FEB Unpas.
Para narasumber membedah beragam aspek konflik, dari akar historis, kepentingan politik regional, hingga dampaknya terhadap keamanan global dan stabilitas energi.
Tak hanya itu, seminar juga menyoroti pentingnya peran mahasiswa. Dalam membangun kesadaran kritis, solidaritas kemanusiaan, dan pemahaman geopolitik lintas batas.
Prof. Anton Minardi menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan (agent of change) yang tidak hanya paham isu global. Tetapi juga mampu mengaktualisasikan pemahaman tersebut dalam bentuk riset dan diskusi yang objektif.
“Mahasiswa harus memiliki kesadaran kritis dan mampu menjadi sumber informasi yang objektif di tengah arus provokasi konflik,” jelasnya.
Mahasiswa sebagai Penghubung Nurani Dunia
Ridho Dawam Muklillah, salah satu pembicara dari kalangan mahasiswa, menyoroti pentingnya membangun jaringan solidaritas kampus lintas negara sebagai bentuk diplomasi warga (citizen diplomacy).
“Kita tidak perlu menjadi negara adidaya untuk membela nilai-nilai kemanusiaan. Cukup dengan keberanian menyuarakan, konsistensi memahami, dan keberpihakan terhadap perdamaian,” katanya.
Ia mengusulkan langkah konkret seperti peningkatan literasi konflik, penguatan budaya diskusi. Serta kolaborasi antarorganisasi mahasiswa untuk menghidupkan advokasi damai dari lingkungan kampus.
Bongkar Asumsi ‘Jauh Berarti Tidak Relevan
Seminar ini juga menantang asumsi sebagian mahasiswa yang menganggap konflik Timur Tengah tidak relevan dengan kehidupan mereka di Indonesia.
Padahal, dalam konteks globalisasi, konflik seperti Iran-Israel bisa berdampak pada energi, diplomasi luar negeri. Bahkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
Dengan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kampus di Bandung, seminar ini menjadi momentum penting. Untuk memperkuat literasi geopolitik di kalangan mahasiswa.
Dan memperluas wawasan mengenai krisis internasional dari sudut pandang akademik dan etika kemanusiaan. (han)












