
WWW.PASJABAR.COM – (Sejarah Paguyuban Pasundan) Pada tanggal 28 Oktober 1928, Paguyuban Pasundan, mendorong para nonoman Sunda untuk turut serta dalam pendeklarasian Sumpah Pemuda.
Ketua Umum Paguyuban Pasundan R. Otto Iskandar Dinata bersama Gatot Mangkupradja pada tahun 1943 mendirikan Pembela Tanah Air Peta). Peta da KNIL merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.
Dalam sejarah sidang Volksraad (1931) Paguyuban Pasundan menyampaikan manifest politik berdasarkan hasil Kongres di Bogor:
- Paguyuban Pasundan mengakui hak tiap-tiap suku bangsa Indonesia untuk memelihara sifatnya (etnologis dan kultural) masing-masing.
- Mengingat nasib yang sama dari seluruh Indonesia, Paguyuban Pasundan menganjurkan adanya satu perjuangan politik.
- Paguyuban Pasundan menginsyafi pertumbuhan Kesatuan Indonesia.
- Paguyuban Pasundan senantiasa berdaya upaya memperteguh dan menyempurnakan front kesatuan politik.
Paguyuban Pasundan juga turut serta dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan. Dalem Bandung, Wiranatakusumah yang saat itu menjadi Ketua Para Bupati se Indonesia meminta kepada Soekarno. Untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia (Proklamasi).
Otto Iskandar Dinata, Ketua Umum Paguyuban Pasundan mengumandangkan pekik “Merdeka”. Dan setelah merdeka Otto Iskandar Dinata dalam sidang Volksraad mengusulkan agar secara aklamasi Soekarno-Hatta ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Di saat itulah secara resmi Soekarno-Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden Negara Republik Indonesia. Dalam kabinet pertama, Otto Iskandar Dinata diangkat menjadi Menteri Negara pertama.
Namun sayang, perjalanan panjang perjuangan Otto Iskandar Dinata dalam menegakkan kemerdekaan diakhiri dengan kejahatan politik.
Otto Iskandar Dinata dijemput atas nama undangan Presiden untuk rapat, nyatanya beliau diculik entah oleh kelompok mana, dibawa ke Pantat Mauk Tangerang yang jasadnya tidak diketahui sampai sekarang.
Sebagai penghargaan kepada Pahlawan Bangsa, sebagai simbolisme bagian pasir di pantai mauk, dibawa ke pasir pahlawan Lembang.
Di tempat itulah keluarga besar Paguyuban Pasundan berziarah setiap tanggal 20 Desember. Untuk memanjatkan doa dan bermunajat kepada Allah SWT, semoga perjuangan almarhum diterima sebagai ibadah hamba-Nya.
Puncak Keterlibatan Kepolitikan
Puncak sejarah keterlibatan Paguyuban Pasundan dalam kepolitikan nasional, yaitu ketika Kongres tahun 1949 di Bandung, mengubah nama Paguyuban Pasundan dengan “Partai Kebangsaan Indonesia (Parki)”.
Partai Kebangsaan Indonesia (Parki) didirikan untuk meluruskan bahwa Paguyuban Pasundan yang berubah menjadi Parki tidaklah sukuisme.
Serta wujud perlawanan kepada Belanda yang masih berambisi mengangkangi bangsa Indonesia. Untuk memecah belah integritas dan kemerdekaan yang telah ditasdikkannya.
Pada tahun 1956, berdasarkan Kongres, Parki berubah lagi menjadi Paguyuban Pasundan. Penggal sejarah tadi, makin membuktikan bahwa Paguyuban Pasundan sejak semula bukanlah sebuah organisasi kesukuan yang picik.
Ir. Djuanda, ketika beliau menjadi Perdana Menteri RI dan juga menjabat Sekjen Paguyuban Pasundan, pada 13 Desember 1957 melahirkan “Deklarasi Djuanda”.
Beliau berjuang melawan penjajah dengan kekuatan diplomasi. Dengan “Deklarasi Djuanda” luas daratan Indonesia semula + 2 juta Km² menjadi 5,7 juta Km². Perairan Indonesia semula 3 mil menjadi 12 mil.
Deklarasi Djuanda telah menyatukan seluruh wilayah yang ada di Nusantara. Oleh karena itu, setiap tanggal 13 Desember Paguyuban Pasundan memperingati Deklarasi Djuanda. (han)












