Bandung, www.pasjabar.com — Paguyuban Pasundan lahir pada 20 Juli 1913 di Bandung, sebagai bentuk reaksi kalangan intelektual Sunda terhadap kondisi sosial-politik di era Hindia Belanda. Organisasi ini didirikan oleh para pelajar dan tokoh terpelajar asal Tatar Sunda, dengan D.K. Ardiwinata sebagai tokoh utama yang memotori gerakan ini. Sejak awal, Paguyuban Pasundan berfokus pada pengembangan budaya, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, menjadikannya salah satu organisasi etnis tertua dan paling konsisten di Indonesia.
Berbeda dengan organisasi pergerakan lain yang menekankan perjuangan politik kemerdekaan, Paguyuban Pasundan lebih menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat Sunda melalui jalur pendidikan dan pelestarian budaya. Sikap ini mencerminkan strategi perjuangan kultural di tengah tekanan kolonialisme Belanda.
Kiprah di Dunia Pendidikan: Membangun dari Akar Rumput
Salah satu sumbangsih paling nyata adalah dalam bidang pendidikan. Organisasi ini mendirikan sejumlah lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Yang paling dikenal adalah Universitas Pasundan (Unpas) yang berdiri sejak 1960 dan kini menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jawa Barat.
Selain itu, Paguyuban Pasundan juga aktif memberikan beasiswa, pelatihan keterampilan, dan pendidikan informal bagi masyarakat. Semangat mencerdaskan kehidupan bangsa diterjemahkan melalui upaya nyata untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul, khususnya dari kalangan Sunda.
Menjaga Budaya Sunda di Era Modern
Paguyuban Pasundan juga menjadi garda terdepan dalam pelestarian budaya Sunda. Melalui berbagai kegiatan kesenian seperti rampak gendang, jaipong, wayang golek, hingga sastra Sunda, organisasi ini berupaya menjaga identitas etnik Sunda di tengah arus globalisasi. Festival budaya, seminar kebudayaan, hingga pelatihan bahasa Sunda secara rutin diselenggarakan.
Di era digital, Paguyuban Pasundan bahkan mulai merambah media sosial dan platform daring untuk menjangkau generasi muda. Ini menjadi strategi baru untuk tetap relevan dan menjangkau komunitas Sunda diaspora yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia bahkan mancanegara.
Tetap Eksis Lebih dari Satu Abad
Lebih dari 110 tahun berdiri, Paguyuban Pasundan tetap eksis sebagai organisasi etnis yang kuat dan berpengaruh. Organisasi ini telah membentuk lebih dari 400 cabang dan komisariat di seluruh Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat gotong royong, nilai-nilai Sunda, dan komitmen terhadap kemajuan masyarakat.
Tantangan tentu tetap ada, mulai dari regenerasi kepemimpinan hingga relevansi di tengah perubahan zaman. Namun dengan akar sejarah yang kuat dan strategi adaptif, Paguyuban Pasundan masih menjadi rumah besar bagi masyarakat Sunda yang ingin menjaga jati diri sambil maju bersama bangsa.
Referensi:
-
Masykur, Ahmad. Paguyuban Pasundan: Perjuangan Budaya dan Pendidikan Kaum Sunda. Bandung: Unpas Press, 2020.
-
Website resmi Paguyuban Pasundan: https://paguyubanpasundan.or.id
-
Suhendar, Edi. “Kiprah Paguyuban Pasundan dari Zaman ke Zaman”, Kompas, 20 Juli 2023.












