WWW.PASJABAR.COM – Sebuah kampung kecil di Binong, Jawa Barat, kini menjelma menjadi pionir kampung wisata kreatif berbasis rajutan yang inklusif, ramah difabel, sekaligus berorientasi ekspor.
Program ini lahir melalui kolaborasi Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (RJBB) dengan komunitas lokal dalam inisiatif bertajuk Merajut Asa Kita.
Sejak bergabung dengan Pertamina RJBB pada 2022, kampung rajut ini terus berkembang menjadi destinasi wisata kreatif.
Yang tidak hanya menghasilkan produk bernilai seni tinggi. Tetapi juga menghadirkan ruang pemberdayaan sosial bagi penyandang disabilitas. Visi besarnya: menjadi bagian dari Kampung Wisata Kreatif Rajut Binong yang terintegrasi berkelanjutan hingga 2027.
“Program ini kami harapkan terus mendorong kemajuan ekonomi warga. Dan menjadikan Kampung Binong sebagai contoh kampung wisata yang mandiri, kreatif, dan menginspirasi,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RJBB, Susanto August Satria, Rabu (6/8/2025).
Ramah Difabel, Berdaya Saing Ekspor
Melalui dukungan Pertamina RJBB, infrastruktur kampung kini ramah difabel. Sehingga para perajut difabel – yang akrab disebut Sobat Rajut Istimewa – bisa berkreasi tanpa hambatan.
Produk rajutan mereka tak hanya laris di dalam negeri, tetapi juga sudah menembus pasar internasional.
Lonjakan permintaan ekspor ini menjadi bukti bahwa karya warga Kampung Binong mampu bersaing secara global. Branding Merajut Asa Kita pun semakin dikenal luas, mengangkat citra kampung ini sebagai destinasi wisata kreatif penuh nilai sosial dan seni.
Wisata Edukatif dan Atraksi Budaya
Kampung Binong mengusung konsep wisata kreatif terpadu.
Mulai dari knit school (sekolah rajut) dengan mentor difabel, pertunjukan seni budaya, shopping village. Hingga konsep live-in homestay yang memungkinkan wisatawan tinggal bersama warga dan merasakan kehidupan lokal yang autentik.
Pendekatan ini terbukti menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat setempat.
Komitmen Lingkungan: Zero Waste
Selain pemberdayaan sosial, kampung ini juga menaruh perhatian pada keberlanjutan lingkungan. Limbah plastik dan rajutan diolah kembali menjadi benang, mengusung konsep zero waste.
Yang membuat produk mereka ramah lingkungan sekaligus bernilai tambah. Kesadaran warga terhadap isu lingkungan pun meningkat, memicu perubahan pola pikir yang lebih bertanggung jawab.
Raih Penghargaan Nasional dan Internasional
Inovasi yang dilakukan komunitas ini telah membuahkan berbagai penghargaan bergengsi.
Pada 2022, Merajut Asa Kita masuk 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Dua tahun kemudian, komunitas ini meraih penghargaan Public Relations Indonesia Awards untuk kategori community-based development.
Puncaknya, pada 2025, mereka diganjar Gold CSR Award dari The Green Organisation di tingkat internasional atas kontribusi terhadap pengembangan komunitas dan lingkungan.
Mimpi yang Terwujud
Ketua Komunitas Merajut Asa Kita, Eka Jaya, mengakui peran besar Pertamina RJBB dalam perjalanan mereka.
“Melalui dukungan Pertamina RJBB kami berhasil mewujudkan banyak hal yang sebelumnya hanya menjadi mimpi. Kami belajar membangun komunitas yang inklusif, saling menghargai, dan bertumbuh bersama. Di Kampung Binong, kami berkomitmen menciptakan ruang yang terbuka bagi semua,” ujarnya.
Langkah ke Depan
Ke depan, komunitas ini menargetkan perluasan akses dan kemitraan. Termasuk pembangunan jalan tembus untuk membuka keterisolasian beberapa wilayah sekitar.
Dengan semangat kolaborasi multipihak – akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas – Kampung Binong optimistis menjadi ikon wisata rajut inklusif di Indonesia.
Bagi warga setempat, kampung ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang untuk menenun harapan dan masa depan yang lebih baik. (uby)












