BANDUNG BARAT, WWW.PASJABAR.COM – Gempa bumi tektonik akibat aktivitas Sesar Lembang bermagnitudo 1,7 kembali mengguncang wilayah Kabupaten Bandung Barat, Rabu (20/8/2025) pukul 12.28 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan episenter gempa berada di darat pada koordinat 6,81 Lintang Selatan dan 107,51 Bujur Timur, sekitar tiga kilometer barat laut Kabupaten Bandung Barat dengan kedalaman 10 kilometer.
BMKG menyebutkan, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Lembang, salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang kerap menimbulkan guncangan dalam beberapa bulan terakhir.
Getaran gempa dirasakan warga di wilayah Lembang dengan skala I–II MMI. Artinya, gempa hanya dirasakan sebagian orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang, hingga ada yang mengira seperti truk berat sedang melintas.
Meski skalanya kecil, gempa ini cukup menimbulkan keresahan. Pasalnya, dalam tiga bulan terakhir, empat gempa kecil tercatat mengguncang wilayah Cimahi, Bandung Barat, hingga Kota Bandung.
Pada Selasa (19/8/2025), gempa dengan magnitudo 2,3 juga sempat dirasakan warga Cimahi.
Warga Minta Mitigasi Ditingkatkan
Warga yang tinggal di sekitar jalur Patahan Lembang mengaku khawatir dengan intensitas gempa yang terus berulang. Mereka berharap pemerintah lebih gencar melakukan sosialisasi mitigasi bencana.
“Jarang ada sosialisasi terkait potensi gempa Sesar Lembang. Yang ditakutkan tiba-tiba terjadi gempa di atas 3 magnitudo. Mudah-mudahan tidak sampai terjadi,” ucap Buyung, warga Desa Kayuambon, Lembang.
Dini, warga Leuwigajah, Cimahi, juga mengaku waswas.
“Jelas khawatir, apalagi gempa itu nggak bisa diprediksi. Takut kalau sedang di rumah, tiba-tiba gempa besar, bisa saja rumah runtuh,” katanya.
Cimahi Masuk Zona Merah Sesar Lembang
Kepala BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyebutkan Cimahi termasuk zona merah Sesar Lembang.
Menurut dokumen Rencana Kontijensi Gempa Bumi, wilayah utara Cimahi. Seperti Citeureup, Cipageran, dan Cihanjuang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari garis sesar.
“Jika terjadi gempa besar, dampaknya bisa maksimal di Cimahi. Karakter tanah di Cimahi adalah bekas endapan Danau Bandung Purba, sehingga amplifikasi guncangannya bisa dua kali lipat lebih kuat,” jelas Fithriandy.
BMKG: Bisa Jadi Fore Shock, Pelepasan Energi Alamiah
Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, mengingatkan bahwa rentetan gempa kecil seperti ini bisa menjadi tanda gempa pembuka (fore shock), meski belum bisa dipastikan kapan dan seberapa besar gempa utama akan terjadi.
“Fenomena seperti ini memang dikhawatirkan, tapi kita tidak bisa langsung menyimpulkan. Salah satu tipe gempa kuat memang didahului oleh gempa pembuka,” katanya.
Daryono mencontohkan, gempa kecil akibat Sesar Lembang pada 2011 dengan magnitudo hanya 3,3 sudah mampu merusak 103 rumah di Desa Jambudipa, Cisarua, Bandung Barat. Hal itu terjadi karena hiposenter gempa sangat dangkal dan kondisi tanah yang lunak.
Sementara itu, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, Supartoyo, menduga aktivitas seismik yang meningkat ini justru bagian dari proses pelepasan energi bertahap.
“Tren pelepasan energi ini cukup positif dibandingkan langsung melepaskan energi besar seperti peristiwa gempa Cianjur,” katanya.
Imbauan BMKG
Hingga pukul 13.33 WIB, BMKG memastikan tidak ada aktivitas gempa susulan. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Warga juga diingatkan untuk mengikuti informasi resmi hanya melalui kanal BMKG.
Meski magnitudo gempa masih kecil, intensitas kegempaan Sesar Lembang dalam beberapa bulan terakhir menjadi pengingat penting bahwa potensi gempa besar selalu ada.
Karena itu, penguatan mitigasi bencana, sosialisasi ke masyarakat, dan kesiapan pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Agar risiko dapat ditekan sekecil mungkin. (han)












