BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Dewan Pers bekerja sama dengan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung menyelenggarakan kegiatan literasi media bertajuk “AI dan Masa Depan Jurnalisme: Menguasai Tools, Mempertahankan Etika”.
Kegiatan ini digelar di Auditorium Lokantara Budaya RRI Bandung, Jalan Diponegara No. 61, Cihaurgeulis, Kota Bandung, Senin (13/10/2025).
Acara ini bertujuan meningkatkan kemampuan verifikasi informasi di platform digital dan mendorong praktik jurnalisme yang etis. Khususnya dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) sesuai dengan Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.
Dihadiri Puluhan Pimpinan Redaksi dan Akademisi

Kegiatan literasi media tersebut dihadiri puluhan pimpinan redaksi media cetak, daring, radio, dan televisi di Jawa Barat. Antara lain dari Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Bandung Ekspres, Galamedia, Radar Bandung, Dara.co.id, Ayobandung.id, Kompas.com Bandung, TVRI Jawa Barat, RRI Bandung, Bandung TV, hingga MNC Trijaya FM.
Turut hadir pula jajaran humas instansi pemerintah Kota Bandung serta perwakilan akademisi dan ketua program studi Ilmu Komunikasi dari berbagai universitas. Seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Islam Bandung, Universitas Pasundan, Universitas Telkom, dan Universitas Muhammadiyah Bandung.
AI Sebagai Dukungan, Bukan Pengganti Manusia
Dalam sambutannya, Kepala RRI Bandung Soleman Yusuf menegaskan pentingnya memanfaatkan teknologi AI untuk memperkuat kerja redaksi, bukan menggantikan peran manusia.
“Pada hari ini ketika bicara AI masuk ke dunia kita, kita memanfaatkannya bukan untuk menggantikan manusia, tetapi mendukung segala kegiatan redaksi media,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto yang membuka acara menekankan pentingnya penguasaan teknologi tanpa kehilangan kendali terhadap etika dan kreativitas jurnalistik.
“Gunakan AI, kuasai AI, jangan sampai kita dikuasai AI. Dalam aturan Dewan Pers sudah diatur bahwa AI diarahkan untuk menjadi asisten, bukan pengambil keputusan,” katanya.
“AI tidak memiliki gimmick seperti manusia. Menghindar dari AI adalah kekonyolan, tapi gunakan AI sebaik-baiknya,” tambahnya.

Bahas Etika, Disinformasi, dan Deepfake
Kegiatan ini terbagi dalam dua sesi.
Pada sesi pertama, Rosarita Niken Widiastuti, Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Dewan Pers, membawakan materi bertema “Sinergi Profesional: Jurnalis, Akademisi, dan Humas Mengawal Etika Jurnalistik Era AI.”
Ia menjelaskan pentingnya profesionalisme dan pemahaman mendalam terhadap kode etik jurnalistik agar pengaduan masyarakat terhadap produk pers dapat berkurang.
“Kami berharap para jurnalis, media, dan mahasiswa semakin mengetahui kode etik jurnalistik. Semakin jurnalisnya profesional dan berkapasitas, maka pengaduan terkait produk pers akan semakin berkurang,” ujar Niken, ketika di wawancara.
Ia menegaskan bahwa AI hanya berfungsi membantu, bukan menggantikan wartawan.
“AI bisa digunakan untuk analisis data, tetapi hasilnya tetap harus diverifikasi. Garbage in, garbage out — jika data yang dimasukkan salah, hasilnya pun akan salah,” tegasnya.
Masih di sesi pertama, Rachmadin Ismail (Pemimpin Redaksi Tirto.id) membahas strategi menghadapi disinformasi dan verifikasi berita di tengah banjir informasi digital, sementara Soleman Yusuf memaparkan peran radio sebagai “benteng terakhir” melawan deepfake audio dalam materinya bertajuk “The Power of Voice di Era Deepfake.”
AI Bantu, Tapi Jangan Menggantikan Kreativitas
Sesi kedua menghadirkan Rina Nurjanah, Content Manager Tirto.id, yang memaparkan praktik langsung pemanfaatan AI dalam jurnalisme dan fact-checking. Peserta diajak mencoba beberapa tools AI yang relevan untuk mendukung proses peliputan dan verifikasi informasi.

Dalam wawancara terpisah, Totok Suryanto kembali menegaskan bahwa Dewan Pers telah memiliki pedoman penggunaan AI dalam pemberitaan.
“AI bisa membantu kita bekerja lebih cepat, misalnya mengumpulkan data, tapi jangan sampai pers jadi bergantung. Kreativitas manusia tetap tak tergantikan,” ujarnya.
Menurutnya, AI sebaiknya digunakan untuk mendukung pengumpulan informasi dan pengolahan data, bukan menggantikan peran jurnalis sebagai pembuat keputusan dan pencipta karya.
“Pers harus hati-hati, jangan gunakan AI untuk menjiplak berita. Lakukan double check terhadap istilah dan konteks lokal. AI masih punya kekurangan yang harus kita koreksi. Kalau kita kuasai teknologi, kita punya langkah lebih maju,” tambahnya.
Dorong Ekosistem Pers yang Etis dan Adaptif
Melalui kegiatan literasi media ini, Dewan Pers berharap jurnalis, akademisi, dan praktisi komunikasi semakin siap menghadapi tantangan baru di era kecerdasan buatan.
AI dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan alat bantu untuk memperkuat kualitas jurnalistik yang etis, akurat, dan berorientasi pada kepentingan publik. (han)












