WWW.PASJABAR.COM – Manchester United kembali menghadapi sorotan tajam setelah muncul gugatan perdata terkait dugaan pelecehan seksual historis yang diduga terjadi pada era 1980-an.
Kasus ini menyeret nama mendiang Billy Watts, mantan staf klub yang bekerja sebagai kitman, petugas lapangan, dan caretaker di pusat latihan The Cliff.
Gugatan tersebut diajukan oleh seorang pria yang mengaku menjadi korban pelecehan ketika masih anak-anak dan berada di bawah pengawasan Manchester United. Ia menuduh klub gagal memberikan perlindungan saat dirinya mengikuti kegiatan di fasilitas latihan tersebut.
Kuasa hukum penggugat dari firma Simpson Millar, Kate Hall, menyebut kliennya menunjukkan keberanian besar dengan membuka kembali pengalaman traumatis tersebut.
“Klien kami telah menunjukkan keberanian luar biasa dengan tampil ke depan setelah bertahun-tahun,” ujarnya, dikutip dari ANTARA, Jumat (14/11/2025).
Ia menekankan bahwa para penyintas tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi juga “layak mendapat keterlibatan yang berarti dan akuntabilitas”.
Tuduhan Lama yang Kembali Mengemuka
Kasus ini kembali mencuat setelah Sheldon Review 2021 menyoroti perilaku Watts dan mencatat sejumlah tuduhan pelecehan terhadapnya selama masa pengabdiannya.
Laporan tersebut turut mengonfirmasi bahwa pada 1989 pernah dilakukan tindakan disipliner internal terhadap Watts. Namun, ia sudah meninggal pada 2009 sehingga tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara langsung.
Sementara itu, Simpson Millar menyatakan bahwa pihak klub hingga saat ini belum bersedia memberikan kerja sama. Yang dianggap konstruktif dalam proses hukum.
Firma tersebut mengungkapkan bahwa, meskipun Manchester United sebelumnya bekerja sama dengan Sheldon Review, kini pihak klub disebut tidak menunjukkan upaya serupa terkait gugatan yang diajukan korban.
“Kurangnya keterlibatan dari pihak klub membuat penyintas tidak memiliki pilihan lain. Selain menempuh langkah hukum secara formal,” tulis Simpson Millar dalam pernyataannya.
Kasus terbaru ini menambah panjang daftar dugaan pelecehan historis di lingkungan sepak bola Inggris.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai laporan independen dan investigasi publik menyoroti pentingnya akuntabilitas institusional serta perlindungan terhadap anak di lingkungan olahraga profesional.
Proses hukum atas gugatan ini diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Melalui jalur perdata, pengadilan akan mempertimbangkan tanggung jawab institusional klub serta kemungkinan kompensasi bagi korban yang mengaku mengalami dampak jangka panjang dari pengalaman traumatis tersebut. (han)












