BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mencatat telah menangani sedikitnya 10 pasien dengan gejala virus Influenza A subclade K atau yang dikenal sebagai super flu sejak periode Agustus hingga akhir tahun 2025.
Meski jumlah kasus masih tergolong terbatas, pihak rumah sakit tetap meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi potensi lonjakan kasus pada tahun 2026.
Virus super flu diketahui memiliki pola penularan yang mirip dengan COVID-19, yakni melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernapasan.
Oleh karena itu, RSHS menerapkan kembali sejumlah prosedur kesehatan yang sebelumnya dijalankan saat pandemi COVID-19, terutama untuk pasien dengan gejala berat.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, dr. Iwan Abdul Rachman, menyampaikan bahwa pihak rumah sakit telah menyiapkan fasilitas dan sumber daya untuk menghadapi kemungkinan peningkatan jumlah pasien.
“Kami sudah menyiapkan ruangan perawatan khusus dan menerapkan prosedur pengendalian infeksi seperti yang pernah dilakukan saat pandemi COVID-19,” ujarnya.
RSHS Terapkan Prosedur Ketat dan Imbauan Kewaspadaan
Menurut dr. Iwan, meskipun super flu bersifat musiman, masyarakat tetap perlu waspada karena gejalanya cenderung lebih berat dan penyebarannya relatif lebih cepat dibandingkan flu biasa. Namun demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik dalam menyikapi situasi ini.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Super flu ini memang musiman, hanya saja gejalanya bisa lebih berat dan penyebarannya lebih cepat, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan,” kata dr. Iwan.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, batuk, pilek, sakit tenggorokan, serta pegal linu.
Jika keluhan tersebut berlangsung lebih dari tiga hari atau kondisi semakin memburuk, masyarakat disarankan untuk langsung mendatangi rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Pihak RSHS berharap langkah antisipatif ini dapat mencegah meluasnya penularan serta memberikan rasa aman bagi masyarakat Jawa Barat. Selain itu, penerapan prosedur kesehatan yang ketat diharapkan mampu menjaga keselamatan pasien, tenaga medis, dan pengunjung rumah sakit. (uby)












