MADRID, WWW.PASJABAR.COM – Jagat sepak bola dikejutkan dengan pengumuman resmi Real Madrid pada Selasa (13/1/2026) dini hari WIB. Xabi Alonso, sosok yang digadang-gadang akan menjadi suksesor jangka panjang kejayaan Carlo Ancelotti, resmi menanggalkan jabatannya sebagai pelatih kepala. Xabi Alonso mundur setelah “dikhianati” pemain kesayangannya Kylian Mbappe dan tidak lagi mendapatkan dukungan dari petinggi Real Madrid.
Meski klub membungkus perpisahan ini dengan kata-kata romantis tentang “legenda” dan “nilai-nilai klub”, kenyataan di balik layar menggambarkan narasi yang jauh lebih kelam: sebuah pemberontakan ruang ganti yang dipimpin oleh para megabintang.
Hanya bertahan selama tujuh bulan sejak Juni 2025, kepergian Xabi menjadi salah satu durasi kepelatihan tersingkat sekaligus paling traumatis dalam sejarah modern Los Blancos.
Pemberontakan di Jeddah: Titik Nadir Sportivitas
Puncak keruntuhan wibawa Xabi Alonso terjadi di King Abdullah Sports City, Jeddah, saat final Supercopa de Espana melawan Barcelona.
Xabi, yang memegang teguh nilai-nilai kehormatan Madrid, menginstruksikan para pemainnya untuk membentuk Guard of Honour bagi Barcelona yang keluar sebagai juara.
Namun, instruksi tersebut diabaikan secara demonstratif. Kylian Mbappe terekam kamera memimpin rekan-rekannya untuk menolak penghormatan tersebut.
Dengan gestur berkacak pinggang dan lambaian tangan meremehkan, Mbappe menarik gerbong pemain bintang seperti Rodrygo, Vinicius Jr, hingga pemain muda seperti Dean Huijsen untuk langsung menuju ruang ganti.
Xabi yang berdiri terpaku di lapangan hanya bisa mengikuti dari belakang dengan perasaan dipermalukan. Momen inilah yang meyakinkan Xabi bahwa ia telah kehilangan kendali total atas skuadnya.
Benturan Filosofi: Taktik Keras vs Zona Nyaman
Masalah Xabi sebenarnya telah mengakar sejak Piala Dunia Antarklub 2025.
Xabi mencoba mentransformasi Madrid menjadi tim dengan skema taktis yang lebih rigid dan menuntut kedisiplinan pressing tinggi, serupa dengan kesuksesannya di Bayer Leverkusen.
Sayangnya, skuad Madrid yang sudah terbiasa dengan pendekatan personalitas “kebapakan” ala Carlo Ancelotti merasa frustrasi. Para pemain mulai menunjukkan sikap tidak respek di sesi latihan:
-
Ketidakdisiplinan Latihan: Beberapa pemain kunci dilaporkan hanya berjalan-jalan saat instruksi taktis diberikan.
-
Arogansi Individu: Vinicius Jr kerap menunjukkan kemarahan saat diganti, sementara Fede Valverde secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya diposisikan sebagai bek.
-
Penolakan Disiplin: Skuad menentang kebijakan menginap sehari sebelum laga tandang (matchday minus one) di Bilbao, sebuah standar profesionalisme yang dianggap beban oleh pemain.
Vakum Dukungan Manajemen, Xabi Alonso Mundur
Xabi Alonso juga berjuang dalam kesendirian di meja manajemen. Permintaannya kepada Florentino Perez untuk mempertahankan Luka Modric dan mendatangkan gelandang baru sebagai suksesor Toni Kroos ditolak mentah-mentah.
Kehilangan Modric yang dilepas ke AC Milan membuat Xabi kehilangan sosok pemimpin di ruang ganti yang bisa menjembatani pelatih dengan para pemain muda yang egois.
Keputusan mundur diambil Xabi saat pesawat tim masih mengudara dari Arab Saudi menuju Spanyol.
Setelah berdiskusi dengan CEO José Ángel Sánchez, Xabi menyadari bahwa tidak ada jalan kembali.
Ia pergi membawa seluruh staf teknisnya, meninggalkan klub yang ia cintai dalam kondisi retak secara internal.
Ironisnya, para pemain baru mengetahui kabar ini melalui rilis resmi klub, membuktikan betapa dalamnya jurang pemisah antara pelatih dan pemain di masa-masa terakhirnya.
Analisis Kronologi Kehancuran Rezim Xabi Alonso
| Periode | Peristiwa Kunci | Dampak |
| Juni 2025 | Penunjukan Xabi Alonso | Ekspektasi tinggi revolusi taktik. |
| Juni-Juli 2025 | Piala Dunia Antarklub | Friksi awal karena gaya melatih yang keras. |
| Agustus 2025 | Penolakan Transfer & Modric Lepas | Xabi kehilangan kendali kepemimpinan senior. |
| Oktober 2025 | Penurunan Performa La Liga | Friksi memuncak, pemain mulai mengabaikan instruksi. |
| Januari 2026 | Insiden Guard of Honour | Penghinaan terbuka pemain; Xabi memutuskan mundur. |












