BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Sejarah tidak selalu lahir dari dentuman meriam atau keputusan politik besar. Terkadang, ia tumbuh dari kegelisahan personal, doa-doa sunyi, dan pilihan hidup yang tak bisa ditunda. Nuansa inilah yang akan dihadirkan dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah yang akan digelar pada Kamis malam, 22 Januari 2026, melalui Zoom.
Diskusi kali ini mengangkat buku Muhibah Cinta di Selat Malaka karya Hermawan Aksan, sebuah catatan muhibah pelayaran KRI Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka—ruang pertemuan bangsa-bangsa yang sejak berabad lalu menjadi denyut penting sejarah maritim dunia. Buku ini tidak hanya merekam perjalanan kapal latih legendaris TNI Angkatan Laut, tetapi juga merangkai refleksi batin tentang cinta, waktu, doa, dan pengabdian.
Dalam narasinya, Hermawan Aksan memadukan pengalaman berlayar di atas geladak Dewaruci dengan pergulatan personal yang manusiawi: dilema antara mengabdi untuk negeri atau tinggal demi hati.
Selat Malaka, yang selama ini dikenal sebagai jalur perdagangan dan geopolitik strategis, tampil sebagai latar refleksi eksistensial, tempat sejarah besar bertemu cerita kecil manusia.
Diskusi Buku #99 Temu Sejarah ini terselenggara berkat kolaborasi Temu Sejarah dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi. Acara akan menghadirkan langsung Hermawan Aksan sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Foggy FF.
Diskusi dirancang tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga membuka ruang dialog tentang sejarah maritim Indonesia, sastra perjalanan, dan makna muhibah dalam konteks kebangsaan maupun personal.
Kegiatan ini akan berlangsung pada Kamis, 22 Januari 2026, pukul 20.00–21.30 WIB, dan terbuka gratis untuk umum. Masyarakat yang ingin mengikuti diskusi dapat mendaftar dengan mengirimkan format Daftar Diskusi Buku #99 – Nama – Domisili melalui WhatsApp ke nomor 0895-3572-55688.
Melalui diskusi ini, Temu Sejarah berharap publik dapat melihat sejarah maritim Indonesia dari sudut pandang yang lebih intim dan reflektif—bahwa di balik pelayaran panjang dan misi negara, selalu ada manusia dengan kegelisahan dan pilihan hidupnya sendiri. (tiwi)












