CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Rabu, 11 Maret 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Tiwi Kasavela
22 Januari 2026
Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural. (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

MADIUN, WWW.PASJABAR.COM— Peristiwa Madiun 1948 tidak semata-mata merupakan konflik ideologi dan perebutan kekuasaan politik, melainkan akumulasi kekecewaan sosial yang telah lama terpendam di tengah masyarakat. Kesimpulan ini mengemuka dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah yang berkolaborasi dengan Historia Van Madioen, Kamis malam (15/1/2026), melalui Zoom.

Diskusi bertajuk “Madiun Affair 1948 dalam Perspektif Sosio-Kultural” ini menghadirkan Septian D. Kharisma sebagai pemantik, dengan Nabia Rizkia sebagai moderator.

Acara yang berlangsung selama 90 menit tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, peneliti sejarah, hingga masyarakat umum.

Dalam pemaparannya, Septian menjelaskan bahwa akar Peristiwa Madiun 1948 tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-budaya masyarakat Madiun sejak masa kolonial. Sejak penerapan kebijakan kolonial pasca-1830, struktur sosial masyarakat mengalami perubahan signifikan. Masuknya industri gula dan kapitalisme kolonial melahirkan kelas sosial baru, memperlemah posisi priyayi tradisional, serta memperdalam kemiskinan dan masalah sosial di pedesaan.

Baca juga:   Temu Sejarah Explore #6 : Lembang dalam Sketsa Kolonialisme

“Struktur masyarakat Madiun sejak kolonial terbagi secara hierarkis, mulai dari penguasa kolonial dan priyayi desa, kiai sebagai elite agama, hingga rakyat kecil seperti petani dan buruh. Relasi feodal dan patron–klien ini melanggengkan ketimpangan sosial,” ujar Septian.

Menurutnya, budaya feodalisme, kharisma elite, serta pola bapakisme membuat dominasi priyayi dan pemuka agama atas wong cilik sulit dipatahkan. Kondisi tersebut semakin tajam pasca-kemerdekaan 1945, ketika Madiun berkembang menjadi pusat revolusi dengan basis buruh, petani, dan organisasi kelaskaran.

Rasionalisasi RERA Memicu Krisis Ekonomi

Septian juga menyoroti kebijakan Rasionalisasi Angkatan Perang (RERA) sebagai titik krusial. RERA dinilai memutus mobilitas sosial pemuda buruh dan petani yang sebelumnya menjadikan laskar sebagai jalan menuju status sosial dan ekonomi yang lebih baik. Penarikan mereka dari struktur militer tidak hanya menurunkan status sosial, tetapi juga memicu krisis ekonomi dan kekecewaan kolektif.

Baca juga:   Manusia dan Sejarah, Dialog yang Tak Pernah Berhenti

“Kekecewaan eks-laskar inilah yang kemudian dimobilisasi oleh PKI dan FDR sebagai kekuatan politik. Janji reforma agraria, kesetaraan sosial, serta narasi perjuangan kolektif menjadi alat untuk mengonsolidasikan dukungan di desa-desa,” jelasnya.

Diskusi juga membahas bagaimana konflik agraria, aksi sepihak pembagian tanah, penghapusan tanah bengkok, hingga pergantian pamong desa memicu konflik terbuka di tingkat lokal. Namun, kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan Front Nasional Madiun justru menjadi bumerang. Represi terhadap priyayi, ulama, aparat desa, dan kelompok anti-PKI menurunkan simpati masyarakat luas.

Baca juga:   Baznas Luncurkan Program Santri Memberdayakan Desa

Dalam analisis penutup, Septian menegaskan bahwa kegagalan Peristiwa Madiun 1948 menunjukkan batas-batas hegemoni revolusi PKI. Basis massa yang tumpang tindih, kuatnya pengaruh kiai dan budaya feodal, serta figur Musso yang kalah populer dibanding Sukarno membuat revolusi sosial tersebut tidak mendapatkan dukungan akar rumput yang solid dan akhirnya runtuh dalam waktu singkat.

Diskusi ini menegaskan bahwa Peristiwa Madiun 1948 perlu dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai ekspresi konflik sosial, budaya, dan kelas dalam masyarakat Indonesia pasca-kemerdekaan. Temu Sejarah berharap kajian sosio-kultural semacam ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih kritis dan berimbang terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah nasional. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: Peristiwa Madiun 1948SejarahTemu Sejarah


Related Posts

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur
PASJABAR

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

5 Maret 2026
Buku Teks Sejarah Indonesia
PASNUSANTARA

Meninjau Ulang Representasi Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah Indonesia

26 Februari 2026
Dari Taman Kota ke Kebun Binatang, Diskusi Temu Sejarah Ungkap Fakta Arsip Kolonial
PASBANDUNG

Dari Taman Kota ke Kebun Binatang, Diskusi Temu Sejarah Ungkap Fakta Arsip Kolonial

26 Februari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
Radio Player
No Result
View All Result

Trending

Pascasarjana Unpas
HEADLINE

Marlina Nur Lestari Raih Gelar Doktor Manajemen Pascasarjana Unpas, Teliti Profitabilitas Sektor Energi

11 Maret 2026

WWW.PASJABAR.COM - Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) kembali melahirkan doktor baru di bidang Ilmu Manajemen. Marlina Nur Lestari...

Siswa Disabilitas Netra Bandung Tadarus Al-Qur’an Braille Jelang Berbuka

Siswa Disabilitas Netra Bandung Tadarus Al-Qur’an Braille Jelang Berbuka

11 Maret 2026
DPRD Kota Bekasi Berbagi Takjil

Semarak HUT ke-29 Kota Bekasi, DPRD Kota Bekasi Berbagi Takjil kepada Masyarakat

11 Maret 2026
Hut Kota Bekasi

Peringatan HUT ke-29 Kota Bekasi: Sinergi Eksekutif dan Legislatif Mewujudkan Kota yang “Semakin Keren dan Nyaman”

11 Maret 2026
Pascasarjana Unpas

Ismah Nashirotunnisa Raih Gelar Doktor Manajemen Unpas, Teliti Tata Kelola Aset Daerah

11 Maret 2026

Highlights

Peringatan HUT ke-29 Kota Bekasi: Sinergi Eksekutif dan Legislatif Mewujudkan Kota yang “Semakin Keren dan Nyaman”

Ismah Nashirotunnisa Raih Gelar Doktor Manajemen Unpas, Teliti Tata Kelola Aset Daerah

Kotak Amal Masjid di Cimahi Dibobol Pencuri Beratribut Ojek Online

Teguh Iman Basuki Raih Gelar Doktor Manajemen Pascasarjana Unpas, Teliti Loyalitas Nasabah Mobile Banking

Ribuan Pemudik Mulai Padati Stasiun Bandung H-10 Lebaran

Hasil Lazio vs Sassuolo 2-1: Gol Dramatis Menit Akhir Gagalkan Poin Jay Idzes cs

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.