SWISS, WWW.PASJABAR.COM — Eks Presiden FIFA Sepp Blatter secara mengejutkan mendukung langkah para penggemar sepak bola yang ingin memboikot ajang Piala Dunia 2026.
Ajang empat tahunan tersebut rencananya akan digelar pada bulan Juni hingga Juli mendatang dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah.
Namun kelayakan Amerika Serikat sebagai penyelenggara utama kini semakin diragukan menyusul berbagai kebijakan kontroversial yang dikeluarkan oleh Presiden Trump.
Pemerintah Amerika Serikat diketahui telah memberlakukan larangan masuk bagi turis dari sejumlah negara termasuk Iran serta negara Pantai Gading.
Kondisi tersebut tentu sangat menyulitkan bagi para pendukung dari negara yang sudah dipastikan lolos untuk menyaksikan tim kesayangan mereka.
Kekhawatiran Keamanan Dan Tindakan Brutal Aparat Imigrasi Amerika
Niat Donald Trump untuk mencaplok wilayah Greenland juga memicu kemarahan besar dari sejumlah tokoh penting di kawasan benua Eropa.
Kondisi keamanan dalam negeri Amerika Serikat dilaporkan sedang tidak stabil akibat sentimen pemerintah yang sangat keras terhadap para pendatang.
Badan Imigrasi Amerika Serikat dinilai telah bertindak sangat brutal dalam menangani para imigran serta pengunjuk rasa di era sekarang.
Tercatat sudah terjadi dua puluh delapan insiden penembakan yang menewaskan delapan orang warga sejak awal tahun dua ribu dua puluh.
Pengacara asal Swiss Mark Pieth memberikan nasihat kepada para penggemar agar sebaiknya menonton pertandingan melalui layar televisi saja nanti.
Ancaman Deportasi Bagi Para Penggemar Dan Dukungan Sepp Blatter
Mark Pieth memperingatkan bahwa para penggemar sepak bola harus siap dipulangkan jika mereka tidak menyenangkan para petugas keamanan setempat.
Risiko deportasi secara mendadak menjadi ancaman nyata bagi siapa saja yang datang menuju Amerika Serikat selama turnamen berlangsung nanti.
Melalui media sosial resminya Sepp Blatter menyatakan bahwa ucapan Mark Pieth tersebut sudah sangat benar untuk mempertanyakan kelayakan turnamen.
Sorotan tajam juga tertuju pada kebijakan harga tiket yang sangat mahal dengan menerapkan sistem harga dinamis bagi para penonton.
Harga tiket pertandingan final saat ini dilaporkan sudah menembus angka seratus empat puluh lima juta rupiah untuk kategori satu.
Tanggapan Gianni Infantino Mengenai Harga Tiket Dan Isu Boikot
Presiden FIFA Gianni Infantino justru berkilah bahwa mahalnya harga tiket disebabkan oleh ulah para spekulan yang mencari keuntungan pribadi.
Gianni Infantino tetap merasa sangat optimis bahwa para penggemar akan tetap datang untuk merayakan pesta sepak bola terbesar di dunia.
Ia menepis kekhawatiran yang disampaikan oleh Sepp Blatter dan meyakini bahwa persatuan melalui sepak bola akan tetap terwujud nanti.
Namun tekanan publik agar FIFA segera mengevaluasi kebijakan tuan rumah terus mengalir deras dari berbagai organisasi hak asasi manusia.
Masa depan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kini berada di tengah pusaran konflik politik serta masalah kemanusiaan yang sangat rumit.
Dampak Sistem Harga Dinamis Terhadap Aksesibilitas Penonton Dunia
Penerapan sistem harga dinamis dalam penjualan tiket Piala Dunia 2026 memicu gelombang kritik dari berbagai kelompok suporter di seluruh.
Sistem tersebut membuat harga tiket sewaktu-waktu dapat melonjak tajam tergantung pada tingginya jumlah permintaan dari para calon pembeli tiket.
Para penggemar merasa bahwa FIFA kini lebih mementingkan keuntungan finansial daripada memberikan akses yang adil bagi seluruh pecinta bola.
Kesenjangan harga yang sangat ekstrem ini dikhawatirkan akan membuat stadion hanya diisi oleh kalangan ekonomi kelas atas saja nanti.
Keaslian atmosfer sepak bola yang biasanya sangat meriah terancam hilang akibat kebijakan komersialisasi tiket yang dianggap sangat berlebihan tersebut.












