BANDUNG BARAT, WWW.PASJABAR.COM – Ratusan warga dari dua desa terdampak bencana tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa mengungsi ke Kantor Desa Pasirlangu, Selasa siang (27/1/2026).
Selain membutuhkan bantuan logistik, para pengungsi juga menyampaikan harapan untuk direlokasi karena khawatir terjadi longsor susulan.
Longsor besar yang menerjang kawasan tersebut membuat warga dari dua kampung memilih meninggalkan rumah demi keselamatan. Berdasarkan data pemerintah setempat, tercatat sebanyak 562 warga kini mengungsi dan menempati area kantor desa yang dijadikan pos pengungsian sementara.
Salah seorang pengungsi, Asih, mengatakan kebutuhan makan para pengungsi sejauh ini cukup terpenuhi. Namun, masih terdapat kekurangan pada kebutuhan pribadi.
“Untuk makan sudah cukup, hanya kekurangan pakaian dalam saja. Kami juga ingin direlokasi karena takut terjadi longsor susulan,” ujar Asih.
Hingga saat ini, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah menerima sebanyak 40 kantong jenazah, dengan 30 di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Petugas menduga masih ada puluhan warga lain yang tertimbun material tanah longsor di lokasi kejadian.
Polisi Berikan Trauma Healing untuk Anak-Anak

Selain fokus pada penanganan pengungsi dan pencarian korban longsor di Cisarua ini, kepolisian juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang terdampak. Untuk menghilangkan rasa takut pasca-longsor, puluhan anak di pengungsian mendapatkan terapi trauma healing dari jajaran Polres Cimahi.
Kegiatan trauma healing dilakukan di lokasi pengungsian Kantor Desa Pasirlangu. Anak-anak diajak berinteraksi, bermain, hingga mengikuti kegiatan menggambar bersama anggota polisi wanita. Mereka juga diberikan makanan ringan guna menciptakan suasana yang lebih ceria.
Salah satu pengungsi, Vikri Naznurloh, mengaku anak-anak mulai terlihat lebih tenang setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Anak-anak jadi lebih senang, tidak terlalu takut lagi,” katanya.
Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adiputra menyampaikan bahwa trauma healing akan terus dilakukan secara rutin.
“Kegiatan ini kami lakukan setiap hari agar anak-anak bisa perlahan pulih dari trauma dan rasa takut akibat peristiwa longsor,” ujarnya.
Upaya ini diharapkan dapat membantu pemulihan psikologis anak-anak sekaligus memberikan rasa aman bagi para pengungsi yang masih bertahan di lokasi. (uby)












