BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas), Erick Pratama, menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional.
Erick berhasil meraih penghargaan The Most Critical Thinking dalam ajang International Student Communications Festival 2026, sebuah forum akademik dan kompetisi yang mempertemukan mahasiswa ilmu komunikasi dari berbagai negara.
Ajang tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan, pengujian kompetensi, serta pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa. Bagi Erick, partisipasinya bukan sekadar mengikuti kompetisi, melainkan menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kemampuan berpikir kritisnya mampu bersaing di level global.
“Penghargaan ini menjadi kejutan sekaligus penguat bahwa proses panjang yang saya jalani tidak sia-sia. Ini juga menjadi validasi bahwa keberanian berpikir kritis dan berbeda tetap memiliki ruang dalam forum akademik,” ujar Erick, dilansir dari unpas.ac.id.
Gagasan Komunikasi dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
Dalam kompetisi tersebut, Erick mengangkat gagasan mengenai peran ilmu komunikasi dalam menyelaraskan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi dengan SDGs nomor 13 terkait penanganan perubahan iklim.
Ia menyoroti konflik kepentingan antara aspek ekonomi dan ekologis yang kerap muncul, khususnya di sektor industri ekstraktif.
Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman Erick sebagai relawan di Aceh Tamiang selama lima hari. Dari pengalaman itu, ia melihat secara langsung bagaimana penciptaan lapangan kerja sering kali berbenturan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Menurut Erick, berpikir kritis memiliki peran sentral dalam ilmu komunikasi di tengah derasnya arus informasi, kepentingan politik, dan narasi ekonomi global.
“Tanpa kemampuan berpikir kritis, komunikasi berisiko menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan sarana transformasi sosial,” katanya.
Ia mengakui, proses menuju penghargaan tersebut tidak mudah, terutama karena keterbatasan waktu di tengah kewajiban bekerja dan menjalani studi.
“Menjaga fokus, konsistensi berpikir, dan kedalaman analisis menjadi tantangan terbesar,” ucapnya.
Keberhasilan Erick tidak terlepas dari dukungan orang tua, dosen pembimbing, pimpinan program studi, serta lingkungan organisasi seperti PARMA FISIP dan HMI yang membentuk ruang diskusi kritis.
Ke depan, Erick bertekad terus mengembangkan diri dan berkontribusi nyata kepada masyarakat melalui keilmuan yang dimilikinya. (han)












