WWW.PASJABAR.COM – Sebuah uji coba pertama di dunia yang dilakukan di Australia menemukan bahwa tes tusuk jari sederhana untuk mendeteksi DNA hepatitis B memiliki tingkat akurasi yang setara dengan pengujian laboratorium standar.
Temuan ini membuka peluang akses pengujian yang lebih luas, terutama di daerah terpencil dan wilayah dengan keterbatasan sumber daya.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Microbiology tersebut menunjukkan bahwa pengujian di tempat perawatan atau point-of-care testing (POCT) mampu memberikan hasil dalam waktu sekitar satu jam.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan di klinik terdesentralisasi, sehingga mampu mengatasi keterlambatan hasil yang biasanya terjadi pada pengujian berbasis laboratorium.
“Hasil uji coba kami menemukan bahwa POCT dengan metode tusuk jari sangat akurat, hampir sama akuratnya dengan tes tradisional,” ujar Profesor Gail Matthews yang memimpin penelitian di Institut Kirby, Universitas New South Wales Australia, dilansir dari ANTARA.
Potensi Perluasan Akses Pengujian Global
Menurut Matthews, temuan tersebut berpotensi memperluas akses pengujian dan pengobatan hepatitis B secara global, khususnya di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.
Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang hati dan diperkirakan diderita oleh sekitar 254 juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini menyebabkan lebih dari satu juta kematian setiap tahun, meski sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
Namun, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa hanya sekitar 8 persen penderita hepatitis B kronis yang menjalani pengobatan. Keterbatasan akses tes menjadi salah satu faktor utama rendahnya angka penanganan tersebut.
Tes tusuk jari ini diharapkan dapat mendukung target WHO untuk mengeliminasi hepatitis B sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030. Dengan menghadirkan sistem pengujian yang lebih cepat, sederhana, dan mudah dijangkau masyarakat. (han)









