WWW.PASJABAR.COM – Kota Bandung bersiap memperkuat penanganan kesehatan mental pelajar dengan melibatkan psikolog secara langsung di sekolah-sekolah.
Langkah ini dinilai penting menyusul meningkatnya temuan kasus gangguan emosional dan perilaku di kalangan siswa, khususnya pada jenjang sekolah menengah pertama.
Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat sekaligus dosen psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), M Ilmi Hatta, menyebut kondisi kesehatan mental pelajar saat ini sudah memasuki kategori “lampu kuning” dan membutuhkan intervensi profesional.
“Di sekolah memang sudah ada guru BK, tapi kewenangannya terbatas. Untuk kasus-kasus tertentu yang cukup berat tidak bisa hanya ditangani guru BK. Harus ada psikolog yang turun langsung memberikan intervensi dan terapi kepada anak-anak yang bermasalah,” kata Ilmi, dilansir dari bandung.go.id.
Psikolog Dampingi Siswa dan Latih Guru BK
Menurut Ilmi, para psikolog nantinya tidak hanya menangani siswa yang mengalami gangguan emosional, tetapi juga memberikan pelatihan kepada guru Bimbingan Konseling (BK).
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengenali gejala awal gangguan mental serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Guru BK nanti akan mendapat training. Jadi ketika menghadapi anak dengan masalah emosional atau perilaku, mereka sudah tahu harus berbuat apa, kapan perlu merujuk ke psikolog dan bagaimana mendampingi siswa secara tepat,” jelasnya.
Program ini sejalan dengan komitmen Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang mendorong kehadiran psikolog di sekolah. Selain itu, upaya penanganan juga akan menyasar orang tua melalui psikoedukasi, mengingat banyak persoalan mental anak berakar dari pola asuh dan lingkungan rumah.
Ilmi menegaskan, kolaborasi antara sekolah, psikolog, pemerintah, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Ini tidak bisa dikerjakan satu pihak saja. Harus ada kerja sama antara sekolah, psikolog, pemerintah dan orang tua,” tutupnya. (han)












