WWW.PASJABAR.COM – YouTube dikabarkan akan memperluas akses fitur pendeteksi wajah berbasis kecerdasan buatan (AI) kepada seluruh kreator berusia 18 tahun ke atas dalam beberapa pekan mendatang.
Fitur tersebut memungkinkan kreator memeriksa apakah wajah mereka digunakan dalam video AI atau konten deepfake di platform YouTube tanpa izin.
Melalui laman komunitas resminya, YouTube menyebut fitur tersebut dirancang untuk memberikan rasa aman bagi para kreator sekaligus mempermudah proses pelaporan dan penghapusan konten yang dianggap menyalahgunakan kemiripan wajah seseorang.
Laporan Engadget pada Sabtu (16/5/2026) menyebut fitur ini sebelumnya hanya tersedia bagi anggota Program Mitra YouTube atau kreator yang telah memonetisasi kanal mereka. Kini, YouTube memperluas akses perlindungan tersebut kepada seluruh kreator, termasuk mereka yang baru mulai membuat konten.
Juru bicara YouTube, Jack Malon, mengatakan perluasan fitur tersebut bertujuan agar semua kreator memperoleh perlindungan setara terhadap penyalahgunaan AI.
“Dengan perluasan ini, kami memperjelas bahwa baik kreator yang telah mengunggah ke YouTube selama satu dekade atau baru memulai, akan memiliki akses ke tingkat perlindungan yang sama,” ujar Jack Malon.
YouTube Permudah Pelaporan Konten Deepfake
Kehadiran fitur ini menjadi penting seiring semakin sulitnya membedakan video asli dengan video hasil rekayasa AI. Teknologi deepfake kini kerap memanipulasi wajah seseorang dalam video yang berpotensi menyesatkan atau merugikan.
Melalui fitur tersebut, kreator dapat mengetahui video mana saja yang menggunakan kemiripan wajah mereka. Setelah itu, mereka bisa langsung mengajukan permintaan penghapusan kepada pihak YouTube.
Untuk menggunakan layanan ini, pengguna harus mendaftar melalui YouTube Studio di komputer. Kreator kemudian perlu membuka menu “Likeness” pada bagian “Content Detection”, memindai kode QR menggunakan ponsel, mengunggah identitas resmi, serta melakukan verifikasi wajah melalui swafoto video.
Setelah proses verifikasi selesai, sistem YouTube akan secara otomatis memindai video yang terunggah di platform. Untuk mencari kemungkinan kecocokan wajah pengguna.
Selain mendeteksi kemiripan wajah, YouTube juga akan meminta informasi tambahan terkait kemungkinan peniruan suara. Namun, hingga saat ini sistem tersebut belum mampu melakukan deteksi berbasis suara secara mandiri.
YouTube pertama kali menguji coba teknologi ini pada 2024 sebelum akhirnya meluncurkannya secara terbatas pada akhir 2025. (han)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer.













