
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Pendidikan dalam Perspektif Islam, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM– Arti pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu individu dan masyarakat. Dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi diri manusia. Sementara itu, dari sudut pandang masyarakat, pendidikan adalah usaha mewariskan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan aktivitas yang terprogram dalam suatu sistem.
Konsep pendidikan dalam Islam mengacu pada makna dan asal kata yang membentuk istilah pendidikan. Terdapat tiga istilah yang biasa digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu at-tarbiyah, at-ta’lim, dan at-ta’dib.
Tarbiyah mengandung arti memelihara, membesarkan, dan mendidik, yang di dalamnya juga mencakup makna mengajar (allama). Dari pengertian tersebut, tarbiyah didefinisikan sebagai proses bimbingan terhadap potensi manusia, baik jasmani, rohani, maupun akal, secara maksimal agar menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan masa kini maupun masa depan.
Pendidikan dalam arti ta’dib merupakan upaya membentuk manusia dengan menempatkan dirinya sesuai dengan susunan masyarakat serta mampu bersikap profesional sesuai ilmu yang dimilikinya. Berdasarkan pengertian ini, pendidikan Islam lebih tepat berorientasi pada ta’dib karena tarbiyah memiliki cakupan yang lebih luas. Cakupan tarbiyah tidak hanya terbatas pada pendidikan manusia, tetapi juga meliputi dunia hewan, sedangkan ta’dib hanya mencakup pendidikan bagi manusia (Naguib al-Attas, 1979).
Istilah at-tarbiyah, at-ta’lim, dan at-ta’dib semuanya merujuk kepada Allah Swt. Kata tarbiyah yang berasal dari kata rabb mengacu kepada Allah sebagai Rabb al-‘Alamin, sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Fatihah ayat 2. Ayat lain menyebutkan:
“Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 24)
Kata ta’lim yang berasal dari kata ‘allama juga merujuk kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui dan sumber segala ilmu pengetahuan.
“Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya. Kemudian Allah berfirman kepada para malaikat: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama itu jika kamu memang benar.’ Mereka menjawab: ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 31–32)
Sementara itu, istilah ta’dib termuat dalam hadis Rasulullah Saw.:
“Tuhanku telah mendidikku, maka Dia memberikan pendidikan yang terbaik kepadaku.”
(HR. Bukhari)
Pengertian ta’dib yang identik dengan Rasulullah Saw. menunjukkan bahwa beliau adalah figur pendidik utama yang harus menjadi teladan. Rasulullah Saw. beri amanat untuk menyampaikan syariat Islam sekaligus mendidik umat manusia.
Dalam hal ini, Abdurrahman an-Nahlawi memandang bahwa pendidikan Islam menyatu dengan kewajiban umat Islam. Menurutnya, Islam merupakan syariat Allah bagi manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Dalam proses peribadatan tersebut, manusia membutuhkan pembinaan dan pengembangan melalui pendidikan Islam.
Secara garis besar, konsep pendidikan Islam berdasarkan pada tiga faktor utama, yaitu:
- Hakikat penciptaan manusia sebagai hamba Allah yang taat dan setia.
- Peran dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.
- Tugas utama para rasul, yaitu mendidik manusia agar memiliki akhlak mulia dan membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Ketiga faktor tersebut menjadi landasan dalam perumusan pendidikan Islam secara umum. Dengan demikian, pendidikan Islam merupakan usaha pembinaan dan pengembangan potensi manusia secara optimal sesuai dengan kedudukannya. Pembinaan tersebut berpedoman pada syariat Islam yang tersampaikan Rasulullah Saw. agar manusia mampu menjalankan perannya sebagai hamba Allah dalam menciptakan kehidupan yang Islami, aman, sejahtera, berkualitas, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. (han)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer.













