WWW.PASJABAR.COM — Konser reuni grup F4 bertajuk “F-FOREVER 1st World Tour” menghadirkan kembali nostalgia yang telah tersimpan lebih dari dua dekade di hati para penggemar.
F4, yang pernah menjadi ikon budaya pop Asia melalui serial fenomenal “Meteor Garden”, membuktikan bahwa daya tarik mereka masih begitu kuat di Indonesia.
Antusiasme penggemar terlihat jauh sebelum konser mulai. Tiket pertunjukan terjual habis dalam waktu singkat, mendorong promotor menambah satu hari pelaksanaan konser.
Dari yang semula terjadwalkan berlangsung pada 29 dan 30 Mei 2026, pertunjukan akhirnya digelar selama tiga hari berturut-turut pada 28, 29, dan 30 Mei.
Respons luar biasa tersebut bahkan membuat pihak promotor terkejut. Ribuan penggemar datang dari berbagai daerah dengan membawa atribut bertema F4. Mengenakan busana khas era 2000-an, hingga menyanyikan lagu-lagu yang pernah mengiringi masa remaja mereka.
“Kami sangat takjub dengan sambutan hangat dari penggemar di Indonesia,” ujar Managing Director Color Asia Live, David Ananda, dalam keterangan resminya.
Nostalgia yang Menyatukan Generasi
Bagi banyak orang, F4 bukan hanya grup musik. Nama mereka melekat erat dengan “Meteor Garden”, serial yang pernah menjadi fenomena di berbagai negara Asia. Dan membuka jalan bagi populernya drama serta musik Mandarin di Indonesia pada awal 2000-an.
Menariknya, konser reuni ini tidak hanya hadiri oleh mereka yang tumbuh bersama F4. Banyak generasi muda yang ikut menyaksikan pertunjukan tersebut karena mengenal grup tersebut dari orang tua atau anggota keluarga mereka.
Nova (41), penggemar asal Pontianak, mengaku rela datang ke Jakarta demi menyaksikan momen langka tersebut.
“Anak saya bahkan belum lahir waktu ‘Meteor Garden’ booming, tetapi dia tahu F4 dan lagu-lagunya. Itu menunjukkan betapa legendarisnya mereka,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hiburan tidak sekadar menjadi produk budaya populer, tetapi juga ruang yang menyimpan memori kolektif lintas generasi.
Di tengah dominasi platform digital dan kemunculan berbagai grup musik baru, karya-karya Mandopop era 2000-an masih mampu menghadirkan kedekatan emosional yang kuat bagi para penggemarnya.
Euforia yang memenuhi Indonesia Arena selama tiga hari pelaksanaan konser menjadi bukti. Bahwa pengaruh Mandopop dan budaya populer Mandarin belum pudar. Sebaliknya, kenangan yang dibangun puluhan tahun lalu justru terus hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (han)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer.













