WWW.PASJABAR.COM — Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mendesak sejumlah negara untuk mencabut pembatasan perjalanan yang diberlakukan akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Menurut WHO, kebijakan tersebut justru menghambat upaya penanganan wabah dan mengganggu distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Dalam konferensi pers di Jenewa, Rabu, Tedros mengatakan larangan perjalanan secara menyeluruh telah berdampak pada rantai pasok logistik yang dibutuhkan dalam penanganan wabah. Ia menilai langkah yang lebih efektif adalah melakukan pemeriksaan kesehatan di titik-titik keberangkatan untuk mencegah penyebaran penyakit ke negara lain.
“Pembatasan perjalanan menyeluruh yang diberlakukan sejumlah negara mengganggu rantai pasok dan menghambat upaya penanganan. WHO merekomendasikan pemeriksaan saat keberangkatan di bandara, pelabuhan, dan perlintasan perbatasan untuk mencegah penyebaran kasus dan kontak ke luar wilayah,” kata Tedros.
WHO pun meminta negara-negara yang menerapkan pembatasan perjalanan total agar segera meninjau kembali kebijakan tersebut demi mendukung respons kesehatan masyarakat yang lebih efektif.
Status Darurat dan Penutupan Perbatasan
Pada 15 Mei lalu, WHO menetapkan wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Status tersebut di berikan karena tingginya risiko penyebaran penyakit lintas negara.
Menyusul perkembangan situasi tersebut, pemerintah Uganda pada akhir Mei memutuskan menutup perbatasan dengan Republik Demokratik Kongo. Langkah itu di ambil sebagai respons terhadap kondisi epidemiologis yang di nilai masih mengkhawatirkan.
Sementara itu, media The New York Times melaporkan bahwa Amerika Serikat berencana mengirim warga negaranya yang terinfeksi Ebola ke Kenya untuk menjalani perawatan.
Namun, Pengadilan Tinggi Kenya kemudian mengeluarkan keputusan sementara yang melarang masuknya pasien Ebola ke negara tersebut.
Ebola merupakan penyakit menular yang berasal dari hewan liar seperti kelelawar dan primata, kemudian dapat menyebar antarmanusia. Melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, maupun benda yang terkontaminasi.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, tingkat kematian rata-rata akibat Ebola mencapai sekitar 50 persen. Bahkan dalam beberapa wabah sebelumnya dapat meningkat hingga 90 persen. (han)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer.













