WWW.PASJABAR.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah kota besar di Indonesia berpotensi diguyur hujan ringan hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang pada Sabtu (2/5/2026).
Prakirawan BMKG, Selly Brilian, menjelaskan kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh adanya daerah konvergensi yang memanjang di sejumlah wilayah.
Mulai dari Samudra Pasifik utara Papua Nugini, Samudra Hindia barat daya Bengkulu. Hingga Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku Utara, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Menurut Selly, kondisi tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilalui.
“Daerah konvergensi dan konfluensi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan. Sehingga sejumlah wilayah perlu mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” ujar Selly dalam keterangannya, dilansir dari ANTARA.
BMKG memprakirakan hujan sedang hingga sangat lebat berpotensi terjadi di sejumlah kota besar. Di antaranya Bandar Lampung, Jakarta, Serang, Yogyakarta, Pontianak, dan Tanjung Selor.
Sementara itu, hujan ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Jambi, Pangkal Pinang, Palembang, Bengkulu, hingga Bandung, Semarang, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Denpasar, Mataram, Makassar, Kendari, Palu, Manado, Ambon, Jayapura, dan Merauke.
BMKG Imbau Waspada Gelombang Tinggi
Selain hujan, BMKG juga mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pemangku kepentingan maritim. Untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan, khususnya di wilayah Sumatera Utara.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan, Indah Riandiny Puteri, mengatakan potensi gelombang tinggi diperkirakan terjadi pada 1 hingga 4 Mei 2026.
“Waspadai gelombang tinggi yang kemungkinan terjadi di sejumlah perairan Sumatera Utara dalam beberapa hari ke depan,” katanya.
BMKG mencatat pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan berkisar 3 hingga 18 knot. Kondisi tersebut dinilai cukup berpengaruh terhadap tinggi gelombang serta aktivitas pelayaran di sejumlah wilayah perairan Indonesia. (han)












