CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Selasa, 21 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Bangkitnya Fasisme Baru

Hanna Hanifah
9 Desember 2024
fasisme

ilustrasi. (foto: istock)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Prof Didi Turmudzi
Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Oleh: Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi M.Si (Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan) – Fasisme

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Saat mendengar kata “fasisme”, kita mungkin langsung teringat pada sosok seperti Adolf Hitler atau Benito Mussolini, dua pemimpin yang membawa dunia ke dalam kegelapan dengan ideologi mereka yang kejam dan penuh kebencian. Namun, apa yang terjadi jika fasisme, yang kita kira sudah terkubur dalam sejarah, tiba-tiba muncul kembali di abad ke-21? Apakah itu mungkin? Sayangnya, jawabannya adalah ya.

Fasisme tidak selalu tampil dalam bentuk yang sama seperti di masa lalu. Saat ini, ia sering kali bersembunyi di balik topeng kebijakan negara yang tampak sah, atau bahkan melalui pemimpin karismatik yang mampu memanipulasi rasa takut dan ketidakpuasan masyarakat. Salah satu contoh yang nyata adalah kebijakan imigrasi ketat yang diterapkan di beberapa negara, di mana kelompok-kelompok tertentu dijadikan kambing hitam atas masalah sosial dan ekonomi.

Baca juga:   Cinta Versi Jalaludin Rumi

Di beberapa negara Eropa, misalnya, partai-partai politik dengan pandangan ekstrem kanan mendapatkan dukungan yang semakin besar. Mereka seringkali menggunakan retorika yang mempromosikan “kemurnian nasional” dan “perlindungan budaya” untuk membenarkan diskriminasi terhadap imigran dan minoritas. Dengan memanfaatkan ketakutan masyarakat akan perubahan dan krisis ekonomi, mereka berhasil membangkitkan kembali sentimen nasionalisme ekstrem yang mirip dengan fasisme di masa lalu.

Salah satu contoh kebijakan yang mengkhawatirkan adalah penerapan undang-undang yang membatasi hak-hak kebebasan berbicara dan berpendapat. Di beberapa negara, pemerintah menggunakan alasan keamanan nasional untuk membungkam para kritikus dan membatasi media. Langkah-langkah ini sangat mirip dengan taktik yang digunakan oleh rezim fasis di masa lalu, di mana kontrol terhadap informasi dan represi terhadap perbedaan pendapat menjadi kunci untuk mempertahankan kekuasaan.

Baca juga:   Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Berikan Pembekalan untuk Mahasiswa Baru STKIP Pasundan  

Di Asia, ada pula negara-negara yang mulai mengadopsi kebijakan “penataran ulang” atau “pendidikan ulang” terhadap kelompok-kelompok minoritas yang dianggap berbahaya bagi stabilitas negara. Ini mengingatkan kita pada kamp-kamp konsentrasi yang digunakan oleh rezim fasis untuk menghilangkan mereka yang dianggap sebagai ancaman terhadap “kemurnian” bangsa.

Fasisme Baru

Bangkitnya fasisme baru ini tidak hanya mengancam individu-individu tertentu, tetapi juga menghancurkan fondasi demokrasi itu sendiri. Kebebasan, kesetaraan, dan hak asasi manusia, yang seharusnya menjadi dasar dari setiap negara yang maju, mulai terkikis. Contoh nyata bisa dilihat dalam meningkatnya kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas, baik secara verbal maupun fisik.

Selain itu, dengan munculnya kembali ideologi fasis, ada risiko bahwa dunia akan kembali terpecah seperti pada masa sebelum Perang Dunia II, di mana kebencian dan ketakutan menjadi bahan bakar utama konflik global. Ketidakpedulian kita terhadap tanda-tanda awal ini bisa membuat kita terjebak dalam lingkaran sejarah yang kelam.

Baca juga:   Era Baru! Liverpool Luncurkan Jersey Anyar Bareng Adidas

Untuk mencegah kembalinya fasisme dalam bentuk apa pun, penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap tanda-tanda yang muncul. Mengedukasi diri kita sendiri tentang sejarah dan memahami bagaimana fasisme bekerja adalah langkah pertama. Kita juga harus berani melawan retorika kebencian dan diskriminasi, serta mendukung kebijakan yang mempromosikan inklusivitas dan keadilan sosial.

Sejarah mengajarkan kita bahwa ideologi berbahaya bisa muncul kapan saja dan di mana saja, terutama ketika kita tidak siap atau tidak peduli. Dengan bersatu dan berdiri teguh melawan kebangkitan fasisme, kita bisa memastikan bahwa bayangan gelap ini tidak akan kembali menghantui dunia. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: fasismeOpinipaguyuban pasundan


Related Posts

Ilmuwan Panggung
HEADLINE

Ilmuwan Panggung

21 April 2026
pasundan law fair 2026
HEADLINE

Pasundan Law Fair 2026 Sukses Digelar, Ajang Nasional Adu Gagasan dan Kompetensi Mahasiswa Hukum

16 April 2026
Negeri Segudang Seruan
HEADLINE

Negeri Segudang Seruan

14 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

roket NASA ke bulan
HEADLINE

NASA Kirim “Jantung” Roket Artemis III ke Florida, Misi Manusia ke Bulan 2027 Makin Dekat!

21 April 2026

# Roket NASA ke bulan BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – NASA kembali menunjukkan langkah besar dalam ambisi eksplorasi luar...

Super League

Jadwal Pekan 29 Super League, Sajikan Laga Krusial Papan Atas

21 April 2026
hari buruh bandung

Peringatan Hari Buruh Bandung 2026 Usung Kolaborasi dan Solidaritas

21 April 2026
Masjid Raya Al Jabbar

Dedi Mulyadi Jelaskan Anggaran Pemeliharaan Masjid Al Jabbar Rp22 Miliar

21 April 2026
harga elpiji naik

Harga Elpiji Naik, KDM Ungkap Kearifan Lokal Bisa Jadi Alternatif

21 April 2026

Highlights

Dedi Mulyadi Jelaskan Anggaran Pemeliharaan Masjid Al Jabbar Rp22 Miliar

Harga Elpiji Naik, KDM Ungkap Kearifan Lokal Bisa Jadi Alternatif

1.744 Calon Jemaah Haji Kota Bandung Siap Berangkat Tahun Ini

Bayu Aji Widodo Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum Unpas, Soroti Independensi Peradilan Militer

Gubernur Jabar Tegaskan Pajak Kendaraan Listrik Tetap Diberlakukan

Ibu Penjual Siomay Bandung Berangkat Ibadah Haji Setelah 13 Tahun

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.