• Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan
Minggu, Mei 10, 2026
  • Login
PASJABAR
  • BERANDA
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASFINANSIAL
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASFINANSIAL
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Satu Abad Pram: Dihapus, Dilarang, Tapi Abadi

Reading Time: 5 mins read
A A
Pram

Pramoedya Ananta Toer. (foto: gramedia.com)

Share on FacebookShare on Twitter
Penulis: admin
Editor: admin
Dipublikasikan: Senin. 10 Februari 2025 - 07:00 WIB
Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas (Pram)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

I

Seratus tahun sejak kelahirannya, Pramoedya Ananta Toer tetap menjadi sosok yang tak bisa ditenggelamkan oleh waktu. Ia dilarang, dibuang, disensor. Karya-karyanya dibakar, pemikirannya dianggap berbahaya, dan namanya berusaha dihapus dari sejarah resmi negeri ini. Tapi justru dalam larangan itu, ia semakin kuat, semakin membumi.

Pram bukan hanya penulis. Ia adalah suara, saksi, sekaligus korban dari rezim yang alergi pada ingatan. Ia hidup dalam zaman yang takut pada kata-kata. Dan kata-kata itulah yang membuatnya tetap hadir—di rak-rak buku yang pernah disita, di benak pembaca yang terus bertanya, di ruang-ruang diskusi yang berusaha memahami Indonesia.

Dalam Bumi Manusia, kita melihat bagaimana Minke, anak pribumi yang belajar berpikir, menghadapi dunia yang berusaha menundukkannya. Itu bukan sekadar kisah kolonialisme, tapi juga cermin bagi negeri ini: kita terus berulang-ulang menghadapi kekuasaan yang takut pada rakyatnya sendiri.

Maka, seratus tahun setelah Pram lahir, kita bertanya: apakah kita sudah menjadi bangsa yang lebih berani?

II

Buku-buku Pram pernah dilarang. Ia dituding sebagai bagian dari “sastra kiri,” padahal ia tak pernah menulis untuk partai mana pun. Ia menulis untuk kebenaran, untuk sejarah yang tak ingin dilupakan. Tapi justru di situlah letak masalahnya: sejarah versi Pram bertabrakan dengan sejarah versi penguasa.

Di Pulau Buru, ketika rezim Orde Baru menahannya tanpa pengadilan, Pram tidak menyerah. Dengan tangan terikat dan pena yang dicabut, ia tetap menulis. Ia mengisahkan bagaimana sejarah Indonesia bukan hanya milik mereka yang berkuasa, tapi juga milik mereka yang tertindas. Di sanalah lahir Tetralogi Buru—mahakarya yang menolak tunduk pada tirani.

Namun, apa yang berubah hari ini?

Buku-buku Pram memang tak lagi secara resmi dilarang, tapi apakah kita benar-benar membaca dan memahami pesannya? Atau kita hanya menjadikannya ikon, sementara semangatnya terabaikan?

Ketakutan terhadap kata-kata masih ada. Sensor masih bekerja, meski dalam bentuk yang lebih halus. Kritik dibungkam, sejarah dikaburkan, dan mereka yang mencoba mengungkap kebenaran kerap dicap sebagai ancaman.

Pram, dalam satu abad kelahirannya, seolah ingin berkata: “Kalian masih hidup dalam dunia yang sama.”

III

Tapi Pram tetap abadi.

Ia abadi bukan karena disanjung, melainkan karena ia tetap menjadi perbincangan. Ia hadir di tengah generasi baru yang kembali mempertanyakan: siapa kita sebagai bangsa? Mengapa sejarah kita dipenuhi ingatan yang berlubang? Mengapa kita masih takut pada pemikiran yang berbeda?

Ada ironi dalam perjalanan panjang sastra Pram. Ia lebih dihargai di luar negeri ketimbang di negerinya sendiri. Karya-karyanya diterjemahkan ke puluhan bahasa, ia dipuji oleh kritikus dunia, tapi di rumahnya sendiri, ia tetap menjadi sosok yang tak nyaman untuk dikenang.

Negeri ini punya kebiasaan melupakan. Tapi Pram mengajarkan bahwa melupakan adalah kekalahan.

Ia mengajarkan bahwa sastra bukan sekadar hiburan, tapi juga perlawanan. Kata-kata bukan sekadar untaian indah, tapi juga senjata. Dan selama ketidakadilan masih ada, selama sejarah masih direkayasa, selama kebebasan berpikir masih dianggap ancaman, maka Pram akan terus dibaca.

Dihapus, dilarang, tapi abadi.

IV

Seratus tahun setelah kelahirannya, Pram seharusnya lebih dari sekadar nama dalam sejarah sastra. Ia adalah pelajaran. Tentang bagaimana kata-kata bisa menjadi ancaman bagi kekuasaan. Tentang bagaimana seorang penulis bisa begitu ditakuti oleh mereka yang punya senjata.

Dan juga, tentang bagaimana keteguhan hati bisa mengalahkan represi.

Kita tak perlu hanya merayakan Pram. Kita perlu membaca ulang Pram, memahami pikirannya, dan menghidupkan kembali keberaniannya dalam bertanya.

Karena Pram bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah suara yang masih berbicara kepada kita hari ini.

Kita hanya perlu mendengarkannya.

V

Pram tak ingin dirinya dikenang sebagai martir. Ia bukan nabi, bukan pahlawan. Ia hanya seorang penulis yang percaya bahwa sejarah tak boleh dimonopoli oleh mereka yang berkuasa. Tapi di negeri ini, menulis sejarah yang jujur justru dianggap kejahatan.

Ia menyaksikan bangsanya merdeka, tapi ia juga melihat bagaimana kemerdekaan itu sering kali tak lebih dari janji kosong. Di zamannya, intelektual yang berani bicara dikucilkan, sementara mereka yang tunduk pada penguasa justru naik ke panggung kehormatan.

Ironinya, setelah reformasi, pola itu tetap berulang.

Hari ini, kita masih melihat bagaimana keberanian berbicara dibayar mahal. Mereka yang menolak ikut arus diserang, dicurigai, dicap sebagai musuh negara. Kritik masih sering dianggap sebagai ancaman ketimbang peringatan. Kebebasan berpikir masih harus bertarung dengan sensor, baik yang datang dari negara maupun dari masyarakat sendiri.

Pram mengajarkan bahwa kata-kata tak bisa dibungkam. Tapi apakah kita, yang hidup di era kebebasan informasi, masih memiliki keberanian untuk mempertahankan kata-kata itu?

VI

Pram pernah berkata bahwa tak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Ia sendiri telah membuktikannya—melalui hidupnya yang penuh luka, pembuangan yang tak adil, dan stigma yang terus menempel bahkan setelah ia wafat.

Namun, ada satu hal yang tak pernah bisa dirampas darinya: gagasannya.

Hari ini, saat kita memperingati satu abad Pramoedya Ananta Toer, kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita hanya akan mengingatnya sebagai legenda, ataukah kita benar-benar mau meneruskan perjuangannya?

Karena jika ada satu hal yang terus Pram ingatkan kepada kita, itu adalah bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya merayakan pahlawan masa lalu, tapi bangsa yang berani bertanya:

“Apakah kita sudah menjadi seperti yang mereka perjuangkan?”

Dan sejauh ini, jawaban kita masih abu-abu.

VII

Di usianya yang ke-100, Pram tetap hadir. Tidak dalam upacara, tidak dalam seremoni, tapi dalam buku-buku yang terus dibaca secara diam-diam. Dalam mahasiswa yang bertanya tentang sejarah yang tak diajarkan di kelas. Dalam rakyat kecil yang merasa bahwa negeri ini belum benar-benar berpihak pada mereka.

Dihapus, dilarang, tapi abadi.

Karena selama masih ada yang mempertanyakan kebenaran, selama masih ada yang menolak tunduk pada narasi tunggal, selama masih ada yang percaya bahwa sastra bisa menjadi alat perlawanan, maka Pram akan terus hidup.

Bukan sebagai nama dalam buku sejarah, bukan sebagai ikon sastra yang aman untuk dipuja, tapi sebagai pengingat:

Bahwa bangsa ini masih punya banyak pertanyaan yang belum terjawab.

VIII

Barangkali itulah keabadian sejati Pramoedya Ananta Toer: ia tak sekadar menjadi penulis besar, tetapi menjadi duri dalam sejarah bangsa yang enggan bercermin. Ia tak ingin dipuja, tapi ia juga tak bisa diabaikan.

Di setiap zamannya, Pram selalu menemukan relevansinya sendiri. Ketika ia menulis Bumi Manusia, ia berbicara tentang kolonialisme, tapi dalam lapisan yang lebih dalam, ia berbicara tentang bagaimana kekuasaan selalu mencari cara untuk menundukkan mereka yang berpikir. Ketika ia menulis Rumah Kaca, ia tak hanya berbicara tentang pengawasan di zaman Hindia Belanda, tetapi juga tentang paranoia yang bisa tumbuh di setiap pemerintahan yang takut kehilangan kendali.

Maka, jika hari ini kita masih bertanya apakah Pram masih relevan, mungkin kita sedang menutup mata terhadap kenyataan.

Sebab, seperti yang ia tulis dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, “Penindasan bisa berubah bentuk, tapi ia tak pernah benar-benar hilang.”

Dan selama masih ada ketidakadilan, selama masih ada sejarah yang dipelintir, selama masih ada kekuasaan yang takut pada kata-kata, Pram tak akan pernah menjadi masa lalu.

Ia akan terus hadir di tengah kita, bukan sebagai kenangan, tapi sebagai suara yang terus menggugat.

IX

Mungkin itulah mengapa Pram selalu punya hubungan yang rumit dengan negerinya sendiri. Ia mencintai Indonesia, tetapi ia juga kecewa padanya. Ia menulis tentang Indonesia dengan penuh harapan, tetapi ia juga melihat betapa negeri ini terus-menerus mengkhianati cita-cita kemerdekaan.

Dalam banyak hal, Pram adalah saksi dari sebuah bangsa yang tak pernah benar-benar selesai dengan dirinya sendiri.

Seratus tahun setelah kelahirannya, pertanyaannya masih sama:

Apakah kita sudah menjadi bangsa yang merdeka, atau kita masih terus mencari alasan untuk tetap tunduk?

Apakah kita sudah belajar dari sejarah, atau kita masih terus mengulang kesalahan yang sama?

Apakah kita sudah cukup berani untuk membaca dan memahami kata-kata Pram, atau kita masih takut bahwa kata-kata itu akan membuka luka yang ingin kita lupakan?

X

Seratus tahun adalah waktu yang panjang bagi seorang manusia, tapi bagi gagasan, itu hanyalah permulaan.

Pram, dengan segala larangan dan pengasingan yang pernah menimpanya, telah membuktikan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan nyawa yang bisa terus berdenyut di setiap zaman.

Maka, tugas kita bukan hanya mengenangnya.

Tugas kita adalah membaca ulang, memahami, dan bertanya:

Apa yang masih perlu kita perjuangkan?

Karena selama pertanyaan itu masih ada, Pram tak akan pernah benar-benar pergi.

Ia akan terus hidup.

Dihapus, dilarang, tapi tetap abadi. (han)

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.

Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .

Tags: OpiniPramoedya Ananta Toer
admin

admin

Related Posts

Timnas Indonesia Piala Asia
HEADLINE

Grup Neraka, Indonesia Hadapi Jepang dan Qatar di Piala Asia 2027

Minggu. 10 Mei 2026 - 20:06
Barcelona vs Real Madrid
HEADLINE

El Clásico Penentu Gelar! Barcelona dan Real Madrid Siapkan Kekuatan Terbaik

Minggu. 10 Mei 2026 - 19:42
hasil Persib vs Persija
HEADLINE

Fakta Menarik di Balik Kemenangan Persib atas Persija

Minggu. 10 Mei 2026 - 18:13
Next Post
IKA Unpad

Dr. Ferry Joko Juliantono Resmi Pimpin IKA Unpad 2024-2028

Operasi Keselamatan Lodaya

Polrestabes Bandung Gelar Operasi Keselamatan Lodaya

Misi Nick di Laga Kontra PSIS vs Persib: Menang Tanpa Dikartu

Recommended

Christopher Nkunku. (Getty Images Sport)

Gol Christopher Nkunku dan Peran Vital Luka Modric di Balik Kebangkitan Sang Bintang Milan

4 bulan ago
TPST Motah Bakul Agamis

Inovasi TPST Motah Bakul Agamis: TPS Liar Jadi Pengelolaan Terpadu

1 tahun ago
Jejak yang Tak Terkubur, Merawat Ingatan dari Benteng Pendem hingga Bong Londo

Jejak yang Tak Terkubur, Merawat Ingatan dari Benteng Pendem hingga Bong Londo

1 tahun ago
Tol Japek II Selatan

Tol Japek II Selatan dan Bocimi Siap Difungsikan Lebaran 2026

2 bulan ago

Instagram

    Please install/update and activate JNews Instagram plugin.

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized

Topics

2026 AC Milan Arne Slot arsenal bandung barcelona berita bola BMKG bobotoh bojan hodak bursa transfer Dedi Mulyadi gubernur jawa barat Hasil Bola Hasil Pertandingan inter milan jawa barat KAI Daop 2 Bandung Kualifikasi Piala Dunia 2026 liga champions liga inggris liga italia liverpool Manchester City manchester united Mikel Arteta Opini paguyuban pasundan Pascasarjana Universitas Pasundan pascasarjana unpas Patrick Kluivert pemkot bandung persib persib bandung Piala Dunia 2026 premier League pssi Real Madrid Ruben Amorim sepak bola indonesia Serie A Super League 2025/2026 timnas indonesia universitas pasundan unpas
No Result
View All Result

Highlights

Mangprang! Remontada Persib Hancurkan Persija

Menanti Dominasi Manis Persib atas Persija

Tiga Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan, Operasi SAR Ditutup

Dr. Nenden Euis Sri Mulyati Terpilih Menjadi Ketua IKA Unpas 2026–2031

Saat Hati Bertamu ke Raudhah

LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman

Trending

Timnas Indonesia Piala Asia
HEADLINE

Grup Neraka, Indonesia Hadapi Jepang dan Qatar di Piala Asia 2027

by Yatti Chahyati
Minggu. 10 Mei 2026 - 20:06
0

# Timnas Indonesia Piala Asia BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM -- Timnas Indonesia menghadapi tantangan besar pada putaran final Piala...

Barcelona vs Real Madrid

El Clásico Penentu Gelar! Barcelona dan Real Madrid Siapkan Kekuatan Terbaik

Minggu. 10 Mei 2026 - 19:42
hasil Persib vs Persija

Fakta Menarik di Balik Kemenangan Persib atas Persija

Minggu. 10 Mei 2026 - 18:13
Remontada Persib

Mangprang! Remontada Persib Hancurkan Persija

Minggu. 10 Mei 2026 - 17:38
persib-persija

Menanti Dominasi Manis Persib atas Persija

Minggu. 10 Mei 2026 - 17:26
PASJABAR

ww.pasjabar.com adalah media berita online yang menyajikan beragam informasi penting dan menarik di skala lokal, regional, nasional dan internasional. www.pasjabar.com juga hadir melalui tayangan berita video yang dapat disaksikan di channel youtube pastv. Pas Jabar - Pas untuk kita semua.

Recent News

  • Grup Neraka, Indonesia Hadapi Jepang dan Qatar di Piala Asia 2027 Minggu. 10 Mei 2026 - 20:06
  • El Clásico Penentu Gelar! Barcelona dan Real Madrid Siapkan Kekuatan Terbaik Minggu. 10 Mei 2026 - 19:42
  • Fakta Menarik di Balik Kemenangan Persib atas Persija Minggu. 10 Mei 2026 - 18:13

Kategori

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASFINANSIAL
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI

© 2026 PASJABAR