WWW.PASJABAR.COM – Kardiomiopati takotsubo atau yang dikenal dengan sindrom patah hati merupakan kondisi langka yang menyebabkan otot jantung melemah dan berubah bentuk akibat stres emosional atau fisik parah, seperti kehilangan orang terdekat.
Kondisi ini memiliki gejala mirip serangan jantung dan membuat penderitanya berisiko dua kali lipat mengalami kematian dini dibanding populasi umum.
Dilansir The Guardian pada 30 Agustus 2025, penelitian terbaru yang dipresentasikan dalam kongres tahunan European Society of Cardiology di Madrid, Spanyol, menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dan program olahraga pemulihan jantung dapat membantu pemulihan pasien dengan sindrom patah hati.
“Sindrom takotsubo dapat menjadi kondisi menghancurkan yang dapat memengaruhi Anda pada saat yang sangat rentan jika dipicu oleh peristiwa kehidupan besar,” kata Dr. Sonya Babu-Narayan, direktur klinis di British Heart Foundation yang mendanai studi tersebut.
Uji coba terkontrol acak itu melibatkan 76 pasien dengan rata-rata usia 66 tahun, 91 persen di antaranya perempuan. Peserta dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok: CBT, program olahraga, dan perawatan standar.
Semua pasien tetap mendapatkan pengobatan lain sesuai rekomendasi dokter jantung.
Kelompok CBT menjalani 12 sesi terapi mingguan yang dirancang khusus sesuai kondisi pasien, sementara kelompok olahraga mengikuti program selama 12 minggu mencakup sepeda statis, treadmill, aerobik, hingga berenang.
Intensitas olahraga ditingkatkan secara bertahap setiap pekan.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dalam kelompok CBT dan olahraga mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan jantung memproduksi dan menggunakan energi.
Jarak tempuh rata-rata pasien CBT dalam enam menit meningkat dari 402 meter menjadi 458 meter. Sementara itu, kelompok olahraga mampu berjalan rata-rata 528 meter, naik dari 457 meter.
Selain itu, kedua kelompok juga mencatat peningkatan VO2 max—indikator kebugaran kardiovaskular—sebesar 15 persen pada kelompok CBT dan 18 persen pada kelompok olahraga. Peningkatan ini menandakan perbaikan kesehatan jantung.
“Orang-orang mungkin tidak terlalu terkejut bahwa program latihan fisik membantu pasien jantung, tetapi menarik bahwa studi ini juga menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif meningkatkan fungsi jantung dan kebugaran pasien,” ujar Dr. Babu-Narayan.
Dr. David Gamble, dosen klinis kardiologi dari University of Aberdeen, menambahkan bahwa sindrom takotsubo bisa menimbulkan efek jangka panjang.
“Pasien dapat terpengaruh selama sisa hidup mereka dan kesehatan jantung mereka mirip dengan orang-orang yang selamat dari serangan jantung,” ujarnya.
Meski temuan ini menjanjikan, para peneliti menegaskan perlunya riset lanjutan untuk memastikan efektivitas jangka panjang. Dari terapi CBT maupun program olahraga dalam menurunkan risiko kematian atau mengurangi gejala sindrom patah hati. (han)












