BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Pada Kamis, 18 September 2025, Kamisan Aksara (KamSara) edisi ke-13 menghadirkan bedah buku Balada Suburbia karya penulis muda Zaky Yamani. Acara yang dipandu Ariel Seraphino ini menjadi ruang berbagi cerita di mana sang penulis menyingkap wajah pinggiran kota lewat sepuluh cerpen yang penuh warna dan dinamika.
Pinggiran kota seringkali hanya jadi persinggahan mata. Sawah yang menyempit oleh lahan industri, rumah-rumah sederhana yang berdampingan dengan cerobong asap, hingga jalan-jalan kecil yang ramai oleh perantau. Namun, lewat Balada Suburbia, Zaky Yamani mengajak pembaca menelusuri sisi lain suburbia—ruang yang menyimpan kisah, luka, sekaligus kehangatan.
Buku ini merekam denyut kehidupan sehari-hari yang sering dianggap “normal”, padahal menyimpan retakan sosial yang dalam. Bagi Zaky, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang penerimaan—tempat di mana manusia bisa merasa utuh, meski dikelilingi keterasingan.
Menariknya, proses kreatif Zaky banyak dipengaruhi oleh latar belakang jurnalistiknya. Dari dunia jurnalisme ia belajar disiplin riset, tetapi kemudian beralih sepenuhnya menulis fiksi.
Menurutnya, fiksi memberi keluwesan narasi yang lebih lepas, meski tetap berakar pada realitas. Suburbia, dalam pandangan Zaky, bukan hanya latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk sikap dan cara pandang manusia. Balada Suburbia pun hadir sebagai tamparan halus bagi pusat kota, menegaskan bahwa pinggiran punya suara yang sama pentingnya untuk dipahami.
Membaca yang Personal
Dalam sesi tanya jawab, Zaky mengungkapkan bahwa semua cerpen dalam Balada Suburbia ditulis dengan sangat personal. Tak ada satu pun yang bisa dipisahkan dari pengalaman hidupnya sendiri. Meski begitu, ia membedakan buku ini dengan karyanya sebelumnya, Waktu Helena.
“Kalau Helena lahir dari situasi yang sangat depresif, Balada Suburbia lebih merupakan penyaluran realitas sosial yang saya jumpai sehari-hari,” ujarnya.
Soal ritme menulis, Zaky punya kunci sederhana: disiplin. Ia menulis setiap hari hingga merasa ada yang janggal jika sehari saja ia tidak menyentuh tulisan.
“Membangun kebiasaan itu penting. Lama-lama menulis bukan lagi beban, tapi kebutuhan,” katanya.
Pinggiran yang Mengingatkan
Diskusi yang berlangsung hangat itu menegaskan bahwa suburbia bukan sekadar pinggiran kota yang kerap terlupakan, melainkan cermin bagi pusat kota. Kisah-kisah Zaky mengingatkan kita bahwa di balik rutinitas harian yang dianggap “normal”, ada retakan sosial, ada kesepian, tapi juga ada daya hidup yang kuat.
“Semoga pembaca tidak kaget, tapi juga bisa terhibur dengan isinya,” kata Zaky menutup perbincangan. (tiwi)










