BEKASI, WWW.PASJABAR.COM – Upaya Pemerintah Kota Bekasi dalam menurunkan angka stunting terus menuai perhatian, target ambisius menuju Bekasi Zero Stunting masih menghadapi berbagai tantangan.
Meskipun saat ini Kota Bekasi tercatat sebagai salah satu daerah dengan prevalensi stunting terendah di Jawa Barat.
Menuju Bekasi Zero Stunting, salah satu upayanya adalah pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi anak-anak yang teridentifikasi mengalami stunting.
Wakil Ketua II DPRD Kota Bekasi, Faisal, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk tidak hanya fokus pada pemberian asupan gizi tambahan. Tetapi juga memprioritaskan pengecekan kesehatan terhadap penderita stunting.
Menurutnya, langkah ini krusial untuk mendeteksi penyakit bawaan yang mungkin memperburuk kondisi anak.
“Kami minta seluruh penderita stunting dicek kesehatannya. Yang punya penyakit bawaan seperti anemia atau paru-paru, obati. Karena percuma mereka diberikan tambahan gizi kalau ternyata mereka masih sakit,” ujar Faisal, Senin (13/5).
Ia menilai, program Bekasi Zero Stunting yang saat ini dijalankan Pemkot Bekasi masih terbatas pada pilot project yang melibatkan Puskesmas.
Padahal, untuk benar-benar mencapai target bebas stunting, diperlukan pendekatan yang lebih luas dan terstruktur.
“Oleh karena itu saya meminta agar Pemkot Bekasi mengalokasikan anggaran khusus untuk mengobati penderita stunting. Ini penting kalau memang penderita stunting ini mau sembuh,” tegasnya.
Faisal juga mengungkapkan bahwa jumlah penderita stunting di Kota Bekasi masih tergolong tinggi.
Berdasarkan data yang ia terima, hampir seluruh kelurahan di wilayah Kota Bekasi memiliki antara 10 hingga 50 anak yang mengalami stunting.
“Jumlah pastinya saya tidak hafal, tapi per kelurahan itu antara 10 hingga 50 pengidap stunting. Ada yang satu kelurahan 10, ada juga yang sampai 50, bervariasi,” pungkasnya.
Sebagai informasi, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Anak yang mengalami stunting tidak hanya memiliki tinggi badan di bawah standar usianya. Tetapi juga berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif serta penurunan produktivitas di masa depan. (*/put)












