# DBD di Bandung
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2026.
Langkah ini dilakukan menyusul pola statistik yang menunjukkan siklus peningkatan kasus DBD setiap empat tahun sekali.
Hal tersebut diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana, Sabtu (10/1/2026).
Ia mengungkapkan bahwa hingga awal Januari 2026 pihaknya belum menerima data resmi terkait lonjakan kasus. Meski begitu, indikasi awal mulai muncul di sejumlah wilayah.
“Kalau kita hitung dari statistik sebelumnya, memang ada pola kenaikan setiap empat tahunan. Tahun 2026 ini diprediksi mulai naik. Walaupun sekarang masih Januari dan data mingguan belum masuk semua, di beberapa daerah sudah mulai ada indikasi demam berdarah,” ujar Dadan.
Menurutnya, prediksi peningkatan kasus tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi lonjakan besar. Fokus utama Dinkes saat ini adalah memperkuat langkah pencegahan agar kasus DBD tetap terkendali.
“Yang paling penting itu pencegahan. Walaupun kita duga akan meningkat, jangan sampai meningkat secara signifikan,” tegasnya.
Dadan menekankan bahwa keberhasilan pencegahan DBD sangat bergantung pada peran aktif masyarakat, terutama melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan secara rutin setiap pekan.
PSN dilakukan dengan menerapkan gerakan 3M, yakni menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“PSN itu kuncinya. Harus dilakukan seminggu sekali dengan 3M. Masyarakat harus siap menghadapi potensi DBD ini,” katanya.
Kasus Mulai Januari
Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, tren kenaikan kasus DBD biasanya mulai terlihat sejak Januari.
Namun untuk awal 2026 ini, Dinkes masih menunggu laporan lengkap dari fasilitas kesehatan.
“Biasanya mulai Januari sudah kelihatan ada peningkatan. Tapi sekarang saya belum bisa menyebutkan angka karena datanya masih dikumpulkan,” ujarnya.
Selain PSN, masyarakat juga diimbau menjaga kondisi tubuh agar tetap prima. Dadan menjelaskan bahwa daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mengurangi risiko gejala berat saat terinfeksi virus DBD.
“Kalau badan kita fit, walaupun virus masuk, tubuh lebih kuat. Sebaliknya, kalau kondisi tubuh sedang turun, gejala bisa lebih berat,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya pola hidup sehat, mulai dari istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi, hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Lebih lanjut, Dadan menegaskan bahwa PSN tidak akan efektif jika hanya dilakukan secara individu. Diperlukan aksi serentak di tingkat lingkungan agar hasilnya maksimal.
“Kalau hanya satu rumah yang bersih, tapi tetangga tidak, nyamuk tetap ada. Jadi PSN harus dilakukan bersama-sama, serentak oleh warga di wilayah masing-masing,” pungkasnya. (rif)
# DBD di Bandung











