Kabupaten Bandung, www.pasjabar.com — Banjir besar kembali melanda sejumlah ruas jalan utama dan pemukiman di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu pagi (6/12/2025). Banjir Dayeuhkolot Baleendah hari Ini tiga kawasan vital yang terendam parah adalah Dayeuhkolot, Baleendah, dan Jalan Utama Kopoโjalur penghubung krusial antara Kota dan Kabupaten Bandung.
Ketinggian air dilaporkan sangat bervariasi, mulai dari 40 cm hingga mencapai puncaknya 1 meter di beberapa titik terparah. Kondisi ini menyebabkan jalur utama Dayeuhkolot dan Baleendah lumpuh total, menghentikan seluruh aktivitas lalu lintas dan mengganggu roda perekonomian warga.
Kelumpuhan Total dan Kemacetan Parah Akibat Banjir Dayeuhkolot Baleendah Hari Ini

Dampak banjir paling terasa di tiga titik vital. Jalan Utama Kopo, yang merupakan arteri penting, menjadi crowded dan macet total akibat kendaraan yang terpaksa memutar balik untuk menghindari genangan air yang tinggi. Banyak kendaraan yang nekat menerobos banjir dilaporkan mogok di tengah jalan.
Di kawasan Dayeuhkolot dan Baleendah, kelumpuhan lalu lintas membuat kendaraan roda dua dan roda empat sama sekali tidak bisa melintas. Pengendara terpaksa mencari jalur alternatif lain yang jaraknya jauh lebih panjang.
Kondisi banjir yang berulang ini dikonfirmasi oleh warga setempat. Hana, salah satu warga, mengatakan bahwa banjir seperti ini kerap terjadi jika hujan melanda wilayah Bandung Raya.
“Banjir seperti ini kerap terjadi jika hujan melanda wilayah Bandung Raya, bahkan di tempat kami mencapai 1 meter,” ujar Hana, menegaskan kondisi yang berulang dan parahnya ketinggian air di area mereka.
Dampak Fatal: Ekonomi dan Pelayanan Publik Terhenti
Selain melumpuhkan transportasi, banjir juga memberikan pukulan telak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat:
-
Perekonomian Terhenti: Banyak pertokoan di sepanjang jalur utama Dayeuhkolot dan Baleendah terpaksa ditutup sementara karena toko mereka terendam air. Hal ini menyebabkan kerugian ekonomi dan terhentinya aktivitas jual beli.
-
Fasilitas Publik Tutup: Sejumlah fasilitas umum penting, termasuk Puskesmas, Kantor Pos, dan Pom Bensin, juga terendam banjir. Fasilitas-fasilitas ini terpaksa ditutup, menghambat pelayanan dasar kepada masyarakat yang sedang membutuhkan.
Warga setempat pun harus berjuang keras demi melanjutkan aktivitas. Despa, warga Dayeuhkolot, menceritakan terpaksa berjalan kaki untuk menuju tokonya.
“Saya barusan jalan kaki melewati banjir dan harus jinjit biar tidak terlalu basah, yang paling dalam ada satu meter,” kata Despa, seraya menambahkan bahwa ia terpaksa menutup tokonya sampai air benar-benar surut.
Upaya Darurat dan Pencegahan Pungli
Dengan lumpuhnya akses jalan, masyarakat terpaksa mencari solusi darurat, termasuk menggunakan delman sebagai alat transportasi atau nekat menerobos banjir dengan berjalan kaki.
Di tengah situasi yang rentan ini, petugas kepolisian berupaya keras mengatur arus lalu lintas di titik-titik banjir untuk mengurai kemacetan parah yang terjadi akibat pengalihan jalur.
Yang tak kalah penting, kehadiran petugas kepolisian di titik banjir juga bertujuan untuk mencegah adanya oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan, seperti praktik pungli (pungutan liar) terhadap pengendara yang kebingungan mencari jalur aman. Hal ini menunjukkan kerentanan masyarakat saat menghadapi bencana.
Banjir yang berulang ini menuntut penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan dari pemerintah daerah untuk mengatasi masalah drainase dan dampak luapan sungai di Kabupaten Bandung. (Fal)









