CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 19 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASBUDAYA

Pasar Malam Tahunan Ikon Kota Bandung di Gedung Jaarbeurs

pri
13 September 2023
Pasar Malam Tahunan Ikon Kota Bandung di Gedung Jaarbeurs

Mobil dan pengunjung di depan pintu masuk utama gedung Jaarbeurs Bandoeng. Potret diambil antara 1920-1926. (Dok. Tropenmuseum)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Selain sebagai pusat pendidikan dan pelatihan militer, masyarakat Kota Bandung banyak mengenal gedung Kodiklat TNI AD di Jalan Aceh nomor 50 sebagai tempat resepsi pernikahan. Gedung yang memiliki nama resmi “Gedung Mohammad Toha” ini ternyata menyimpan sejarah panjang di dalamnya.

Pada masa 1920 hingga 1941, tempat tersebut banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar Hindia Belanda. Bukan untuk datang ke resepsi–tentu saja, melainkan untuk menghadiri acara pasar malam yang dikenal meriah, lengkap dengan berbagai atraksi dan permainannya.

Pasar malam tersebut dinamai “Jaarbeurs”, yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti “pameran tahunan”. Tulisan Jaarbeurs beserta tiga patung torso pria yang ikonik hingga saat ini masih terpajang di bagian depan gedung.

Berdasarkan tulisan Sudarsono Katam dan Lulus Abadi alam buku Album Bandoeng Tempo Doeloe, Jaarbeurs, sesuai namanya, diselenggarakan setahun sekali. Pasar malam ini memiliki konsep pameran dagang dan hiburan yang diprakarsai oleh Wali Kota Bandung kala itu, B.Coops dan komunitas wisata Bandoeng Vooruit.

Baca juga:   Didi Turmudzi Kembali Terpilih Menjadi Ketua Paguyuban Pasundan Periode 2020-2025

Bila diumpamakan, pameran ini menyerupai Pekan Raya Jakarta di mana pemerintah mendukung berbagai produk usaha industri dan masyarakat (yang didominasi warga Eropa) untuk dipamerkan di dalamnya. Atraksi dan hiburan rakyat seperti aneka permainan, bianglala, area kuliner dan sebagainya juga turut dihadirkan.

Wanita dengan kostum hoop skirt di depan tenda teh di pameran Jaarbeurs Bandoeng 1924. (Dok. Tropenmuseum)

Berdasarkan sejumlah foto dokumentasi gelaran Jaarbeurs, terlihat beberapa produk yang hadir membuka stand di antaranya adalah “Madame Blanche Cream”, “Hollandsche Zuurkraam B.H. Slegt,”, “Ramboet Netjis”, “Obat Mata”, “Bedak Violet Lam Hwa Semarang”, “Java Bier”, dan sebagainya. Masing-masing stand berdiri dengan dekorasi tematik yang didesain semenarik mungkin.

Pameran ini sebelumnya berlangsung di bangunan-bangunan semi permanen, hingga akhirnya menempati lokasi yang sekarang setelah gedung Jaarbeurs selesai dibangun pada 1925. Arsiteknya adalah perancang bangunan kenamaan asal Belanda yang juga banyak mendesain berbagai gedung ikonik di Bandung, C.P Wolff Schoemaker.

Baca juga:   Motorola X70 Air Hadir 31 Oktober, Andalkan Snapdragon 7 Gen 4

Bersama sang adik. R.L.A Schoemaker, Wolff mendesain gedung tersebut dengan gaya Art Deco. Dulu, gedung Jaarbeurs terletak di Jalan Menado Straat (sekarang Jalan Aceh).

Batu Loncatan Basoeki Abdullah

Pelukis kenamaan Indonesia, Basoeki Abdullah juga memiliki sejarah dengan pasar malam ini. Bisa dibilang, Jaarbeurs merupakan salah satu momen batu loncatan kariernya.

Hal tersebut merupakan hal yang berani, mengingat kesempatan memamerkan karya di pameran yang didominasi kaum Eropa merupakan hal yang langka. Dia mendapat kesempatan tersebut karena sang arsitek gedung, C.P Wolff Schoemaker adalah salah satu pengagum karya lukis Basoeki.

Berdasarkan keterangan yang dimuat dalam laman web Museum Basoeki Abdullah, kesempatan emas itu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Basoeki. Dia sempat berkonsultasi dengan kakak dari Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Sosrokartono untuk memilih lukisan mana yang akan dipajang di Jaarbeurs pada 1933 tersebut.

Sosrokartono kemudian memberi saran agar lukisan berjudul Lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena menjadi karya yang dipilih. “Bas, dengan lukisan ini kamu akan dapat berkah,” ungkapnya kala itu.

Baca juga:   Temu Sejarah #77 “Tionghoa di Quora” Menelusuri Jejak Identitas Tionghoa di Era Digital

Di sisi lain, Basoeki juga menilai karya tersebut berpotensi dilirik sebagai sesuatu yang eksotis bagi orang-orang Eropa, dan oleh karenanya dapat bersinar di antara lukisan lainnya. Dia juga sekaligus berupaya mematahkan dominasi pelukis-pelukis Eropa di Jaarbeurs.

Lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena yang dipamerkan Basoeki Abdullah pada Jaarbeurs Bandung, 1933. (museumbasoekiabdullah.or.id)

Akhirnya, keyakinannya tersebut membawa hasil. Diceritakan bahwa banyak pengunjung yang terkagum-kagum dengan lukisan yang menggambarkan semburan api dan sambaran halilintar dari dua sosok yang berperang tersebut.

Para pengunjung kemudian menaruh uang di bawah lukisan milik Basoeki, dan hal itu berlangsung selama berhari-hari. Walhasil, Basoeki membawa pulang uang dalam jumlah yang besar selepas acara tersebut usai.

Dari sana jugalah, Basoeki mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan lukis di Belanda sebagaimana yang selalu dicita-citakannya. Di tahun yang sama, dia berhasil bertolak ke Belanda untuk menempuh pendidikan di Koninklijke Academie Van Beeldenden Kunsten, Den Haag.

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: Jaarbeursjl. acehkologdam


Related Posts

No Content Available

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

UIN Bandung
HEADLINE

Dies Natalis UIN Bandung, Dedi Dorong Akses Kuliah Gratis

19 April 2026

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan ucapan selamat kepada UIN Sunan Gunung Djati Bandung...

program gentengisasi

Jabar Jadi Pilot Project Program Gentengisasi Rumah Subsidi Nasional

19 April 2026
underpass pasteur

Dedi Mulyadi Rencanakan Underpass sebagai Solusi Macet Pasteur

19 April 2026
Mikel Arteta balas pernyataan Pep Guardiola jika Man City kalah maka peluang juaranya habis. (Action Images via Reuters/Matthew Childs)

Psy War Memanas! Guardiola Sebut Peluang Juara Habis, Arteta Pilih Tetap Membumi Jelang Duel Etihad

18 April 2026
Manajer Coventry City Frank Lampard. (Foto: Getty Images/Lewis Storey)

Penantian 25 Tahun Berakhir! Frank Lampard Bawa Coventry City Kembali ke Premier League

18 April 2026

Highlights

Psy War Memanas! Guardiola Sebut Peluang Juara Habis, Arteta Pilih Tetap Membumi Jelang Duel Etihad

Penantian 25 Tahun Berakhir! Frank Lampard Bawa Coventry City Kembali ke Premier League

Dedi Mulyadi Ajak Muda-Mudi Jabar Menikah di KUA: Lebih Baik Jadi Raja Selamanya Daripada Raja Sehari!

Prediksi Chelsea vs Manchester United: Misi Bangkit Si Biru di Tengah Ancaman Setan Merah

Kejutan Besar! Herve Renard Resmi Dipecat Arab Saudi Jelang Piala Dunia 2026

Drama dan Kericuhan di Prancis: Mainz 05 Tersingkir Tragis, Nadiem Amiri Diganjar Kartu Merah

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.