Oleh: Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — (BANDUNG, (PR).) Seorang pendidik dari mulai staf, guru, hingga kepala sekolah ”tuntut membekali diri dengan konsep “Tilu K”, yakni harus lekat dengan anyaho, memiliki kahayang, serta berbekal kabisa yang mumpuni. Nilaiilai positif kependidikan berbasis kearifan lokal tersebut sejatinya serkesesuaian dengan konsep pendidikan modern dalam tantangan global saat ini.
Demikian ditegaskan Ketua Umum Paguyuban Pasundan M Didi Turmudzi dalam pengarahan di hadapan para kepala sekolah dan guru di lingkungan Yayasan Pendidikan Pasundan pada Seminar Membangun Pendidikan Berbasis Keislaman dan Budaya Menuju Kualitas di Aula Pascasarjana Universitas Pasundan Jalan Sumatera Bandung, Rabu (16/3/2016). Hadir juga sebagai pembicara Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Asep Hilman dan guru besar manajemen pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia Nanang Fatah.
Menurut Didi, konsep “Tilu K” yang digali dari khasanah kearifan lokal tersebut memiliki korelasi kuat dengan keharusan kompetensi pendidik dalam era persaingan bebas seperti saat ini. “Dalam jargon yang lain konsep ‘Tilu K’ itu bermakna knowledge, motivation, and skill. Hanya, alam konteks budaya lokal yang juga bersinergi dengan nilai-nilai keislaman, ada penguatan tersendiri dari aspek penguatan karakter anak didik,” ungkap Didi Turmudzi.
Ia mengatakan, saat ini diperlukan kesadaran filosofis mengembalikan hakikat pendidikan pada ranah seharusnya. Pendidikan ebagai sebuah proses pematangan diri untuk memahami arti, hakikat, dan fungsi hidup, serta bagaimana menjalankan tugas hidup dan kehidupan secara benar. “Juga harus diingat lagi bahwa pendidikan adalah sarana pembebasan anak didik dari ketidakmampuan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, ketidakberdayaan dari buruknya hati dan akhlaknya. Oleh karena itu, seluruh proses di dalamnya tidak boleh bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri,” ujarnya.
Didi mengatakan, sampai saat ini harus diakui pendidikan belum menjadi titik sentral dalam pembangunan nasional/daerah. Pendidikan lebih banyak dilaksanakan untuk kepentingan politik, kekuasaan, bisnis, dll. “Oleh karena itu tidak aneh kalau kemudian menggejala pergeseran paradigma pendidikan melalui penyempitan makna pendidikan,” ucapnya.
Sementara itu, Asep Hilman mengatakan dirinya berharap agar Paguyuban Pasundan semakin memperkuat eksistensi sebagai organisasi yang berkhidmat pada kemajuan masyarakat Jabar, terutama dari aspek pendidikan dan pemberdayaan sosial ekonomi. “Khusus pada bidang garapan pendidikan, saya sejak awal kataji pada semboyan yang digaungkan di semua lembaga pendidikan di bawah naungan PP. Semboyan itu adalah luhung elmuna, pengkuh agamana, jembar budayana. Semboyan ini harus tetap panceg atau kokoh digaungkan oleh lembaga pendidikan Pasundan,” ungkapnya.
Luhung elmu, menurut Asep Hilman, bermakna penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi dan luas. “Seueur kanyaho (banyak tahu) harus menjadi keniscayaan para pendidik. Kemudian pengkuh agamana menjadi benteng proteksi dari dampak negatif arus deras teknologi informasi yang kian tak terbendung,” katanya. (han)












