
Oleh: Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si, Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan (Jalaludin Rumi)
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Rumi dikenal dengan julukan Maulawi-i Ma’nawi atau “tokoh dunia makna”, yang dipandang oleh rekan-rekannya sudah mencapai tingkat pengalaman agamawi dalam arti hakekat, pengalaman batin yang tidak terduga dalamnya. Dia menulis buku dan sajak-sajak, yang paling terkenal di antaranya adalah Mathnawi, yang bisa diartikan “Kesatuan Wawasan”.
Dalam buku itu dia mencoba menggambarkan kebinekaan dunia pengalaman ini sebagai satu kesatuan harmonis. Dengan penuh semangat dia mengungkapkan keyakinannya tentang tesis pokok dalam Islam, yakni kesatuan azasi dari semua agama-agama spiritual, di balik kontrakdiksi-kontradiksi yang nampak dalam bentuk kepicikan teologi dan dogma yang diciptakan dan dianut manusia.
Bagi dia Tuhan sama sekali bukan sesuatu yang abstrak-spekulatif, melainkan Realita yang bisa dialami di dasar keperiadaan manusia. Pada suatu tingkat kesadaran agamawi di mana manusia berhasil menyeleraskan dirinya dengan Yang Maha Agung yang menaungi segala sesuatu yang ada, yang diciptakanNya.
Yang paling menarik adalah komentar mengenai Cinta dalam pandangan Rumi, sebagaimana tertulis dalam buku A History of Muslim Philosophy.
Islam
Islam merupakan karsa penciptaan sintesa antara akal, Cinta dan hukum dan integrasi antara aspek eksistensi rendah dan tinggi, tidak dengan jalan melenyapkan existensi rendah, melainkan dengan transmutasi eksistensi rendah ke tingkat eksistensi tinggi. Itulah artinya tunduk pada keinginan Ilahi yang tidak berlangsung secara pasif, melainkan melalui perjuangan yang sadar terus-menerus untuk menjangkau mengalami hakekat realita yang sumbernya adalah Tuhan.
Apapun ajaran yang diambil-alih oleh Islam sebagai bagiannya, akan ditransformasikasikan melalui proses sintesis dan asimilasi, sehingga muncul produk yang sama sekali berbeda dari asalnya. Dalam pembukaan Al-Qur’an kita melihat bahwa Tuhan sebagaimana diajarkan dalam Islam bukan Tuhan sebagai Existensi yang Berpikir dengan sendirinya sebagaimana diajarkan oleh Aristoteles, bukan pula sebagai puncak piramid kesadaran sebagaimana diajarkan oleh Plato, melainkan diungkapkan dalam simbolisme Kesadaran Sempurna dan Kemauan Kreatif.
Dasar-dasar sifat Ketuhanan yang diajarkan dalam Al-Fatihah adalah: (1) Rabb al’alamin atau Pemelihara Semesta Alam, (2) Rahman dan Rahim atau Cinta Kreatif dan Cinta Pengampunan, (3) Malik Yaum al-Din atau Penguasa Hari Pengadilan. Kita melihat bahwa Cinta ditempatkan mendahului hukum dan keadilan sehingga memiliki hierarki yang lebih tinggi.
Islam Mengajarkan Cinta
Kritikus Barat mengenai Islam tidak bisa melihat bagaimana Islam mengajarkan Cinta kepada Tuhan mendahului tunduk tanpa syarat. Mereka lupa bahwa tunduk tanpa syarat hanya mungkin terjadi pada seseorang yang jatuh Cinta ; karena Rahman berarti Dia mencipta dengan Cinta ; Rabb berarti Dia mengasuh dengan Cinta ; Rahim berarti Dia mengampuni dengan Cinta. Sungguh keliru bahwa konsep Cinta dipandang asing dalam agama Islam, khususnya pendapat bahwa Islam meminjam konsep itu dari agama lain atau kaum Sufi.
Apa yang benar adalah bahwa kaum mistikus dan pemikir seperti Rumi mencoba mengungkapkan makna Cinta, bukan sekedar sebagai dasar agama dan etika, melainkan sebagai kekuatan kosmis yang membimbing proses evolusi yang menyentuh seluruh wawasan alam semesta. Dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Tuhan menjanjikan Dirinya bertindak dengan Cinta dan bahwa Cinta menyentuh segala hasil ciptaanNya.
Dalam suatu ayat disebut bahwa Surga meliputi langit dan bumi, yang berarti terdapat dimana pun juga. Nabi Muhammad SAW ditanya oleh seorang non-Muslim, “Ya, Nabi, dimanakah kalau begitu letaknya Neraka ?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Dimanakah malam kalau fajar menyingsing?”, yang memberikan kias bahwa kalau Cinta Tuhan memanifestasikan diri tiada Dia membedakan tempat.
Arti Cinta
Arti Cinta sebagai suatu kekuatan kosmis bisa digali dari ajaran Al-Quran, tetapi akan menjadi lebih jelas apabila kita mempelajari juga perbandingannya dengan ideologi lain. Sejauh suatu teori bisa menjangkau, kita merasa bisa menemukan unsur pra-Islam dalam pikiran Rumi. Mari saya kutipkan pernyataan Khalifah Abdul Hakim dalam bukunya Metafisika Rumi : “Berbicara mengenai teori Cinta, sebagaian dari jalan pikiran Rumi bisa diketemukan analoginya dalam pandangan Plato, yang mempunyai pengaruh kuat pada setiap aliran mistik dalam dunia Islam maupun Kristen, yakni konsepsi Plato mengenai supersensual Realita dan Eros sebagai kekuatan kosmis.
Cinta dalam konsepsi Rumi bukan produk dari sesuatu teori, melainkan pengalaman itu sendiri; sesuatu yang sifatnya personal, yang tidak bisa dipertanyakan atau diragu-ragukan. Tetapi alat-alat konsepsional yang dipergunakan Rumi untuk berfilsafat mengenai Cinta, hanya bisa diterangkan melalui kaitan sejarah pikiran. Isi dari buku Plato, Phaedrus dan The Symposium bukannya tidak dikenal di kalangan pemikir Islam.
Buku Ibnu Sina Fragment of Love sebagaian besar merupakan reproduksi dari dialog dalam The Symposium, Cinta sebagai gerak menuju Keindahan yang diidentifikasikan dengan Kebaikan dan Kebenaran yang merupakan manifestasi Kesempurnaan dan Idea Tertinggi. Demikian pula Cinta yang melekat pada keinginan diri mencapai kehidupan abadi sebagaiman diungkapkan oleh Ibnu Sina merupakan replika dari teori Cinta Plato. Proses asimilasi, pertumbuhan dan reproduksi merupakan manifestasi dari Cinta. Semua benda-benda bergerak menuju Keindahan Abadi dan nilai sesuatu benda adalah sebanding dengan tingkat realisasi menuju ke arah itu.”
Agama
Agama bagi seorang mistikus seperti Rumi adalah agama universal yang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat dogma ortodox. Agama bagi Rumi bukan kepercayaan yang dianut oleh kelompok orang melainkan. Karena sifatnya yang universal melampaui segala batas-batas yang dibuat oleh manusia. Itulah agama yang meliputi bintang, sungai-sungai dan pohon-pohon yang tumbuh di permukaan bumi. Barangsiapa memiliki keyakinan dan intuisi sejalan dengan agama itu, dialah yang berhak berbicara tentang kebenaran. Agama dalam arti hakekat universal seperti itu mustahil terperangkap pada keyakinan buta, keyakinan mengenai kebenaran yang tidak bisa diketahui, dialami. Agama dalam arti itu merupakan alkemi kehidupan, yang mampu meningkat pada eksistensi yang lebih tinggi dengan bantuan kekuatan gaib Cinta. (han)












