BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Penulis sekaligus mantan Ketua Umum Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Pizaro Gozali Idrus, membongkar narasi tentang kehebatan tentara Zionis Israel yang selama ini dianggap sebagai kekuatan militer tak terkalahkan. Menurutnya, anggapan tersebut hanyalah mitos yang runtuh oleh fakta di lapangan.
Pandangan itu disampaikan Pizaro dalam acara bedah buku “Runtuhnya Mitos Kehebatan Tentara Israel dan Para Peruntuh Mitos” yang digelar di Bandung, Jawa Barat, Minggu (18/1/2026). Kegiatan ini diikuti berbagai kalangan, dengan mayoritas peserta berasal dari kalangan anak muda yang selama ini aktif menyuarakan dukungan bagi Palestina.

Dalam pemaparannya, Pizaro menjelaskan bahwa buku tersebut secara khusus mengulas jurang antara klaim keunggulan militer Israel dan realitas yang terjadi di medan perang, terutama di Jalur Gaza. Ia menegaskan bahwa senjata dan teknologi militer yang selama ini dibanggakan Israel ternyata masih dapat dilawan oleh pejuang Palestina.
“Buku ini mengulas runtuhnya klaim kehebatan tentara Israel yang dibangun melalui propaganda militer dan teknologi persenjataan modern. Di lapangan, khususnya di Jalur Gaza, realitasnya justru berbanding terbalik. Israel terbukti dapat dilawan oleh pejuang Palestina meski dengan persenjataan yang jauh lebih sederhana,” kata Pizaro usai kegiatan.
Tekanan Psikologis dan Runtuhnya Superioritas Militer
Menurut Pizaro, buku ini disusun berdasarkan data dan fakta lapangan yang jarang disorot media arus utama. Salah satu temuan penting yang ia angkat adalah rapuhnya kondisi psikologis tentara Israel. Ia menyebut kasus bunuh diri di kalangan militer Zionis mengalami peningkatan signifikan, bahkan tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun dengan angka bunuh diri tertinggi.
“Salah satu data yang saya angkat adalah meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel. Grafiknya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan tekanan psikologis yang sangat berat di medan perang,” ungkapnya.
Selain itu, Pizaro juga menyoroti mitos keunggulan teknologi persenjataan Israel yang selama ini menjadi simbol superioritas militernya. Menurutnya, kecanggihan alutsista tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan di lapangan.

“Israel kerap membanggakan teknologi militernya, termasuk tank canggih dengan harga fantastis, sekitar Rp110 miliar per unit. Namun di Gaza, tank-tank tersebut berhasil dilumpuhkan oleh pejuang Palestina dengan strategi sederhana dan keberanian luar biasa,” ujarnya.
Dalam bukunya, Pizaro turut membandingkan kondisi mental tentara Israel dan para pejuang Palestina. Ia menilai terdapat perbedaan mencolok dalam menghadapi tekanan perang.
“Banyak tentara Israel memilih mengundurkan diri karena tidak sanggup menghadapi medan perang. Sementara di pihak pejuang Palestina, tidak ditemukan fenomena bunuh diri maupun gelombang pengunduran diri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa konflik di Gaza telah membantah narasi lama tentang Israel sebagai kekuatan yang mustahil dikalahkan. Hingga kini, wilayah Gaza tidak sepenuhnya dikuasai dan para pejuang Palestina masih terus melakukan perlawanan.
Pizaro berharap bukunya dapat menjadi warisan literasi bagi generasi muda Indonesia dan dunia Islam. Menurutnya, perjuangan Palestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan persoalan martabat, kemerdekaan, dan kebangkitan umat.
Acara bedah buku ini merupakan bagian dari rangkaian soft launching sebelum peluncuran utama yang dijadwalkan pada 28 Januari mendatang. Diskusi dikemas secara santai di kafe dan ruang publik untuk menjangkau audiens muda, dan rencananya akan dilanjutkan melalui roadshow ke sejumlah kota lain. (han)












