CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Jumat, 6 Maret 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Farhan dan Dosa Lama Bandung

Hanna Hanifah
11 Maret 2025
Farhan Bandung

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (foto: pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Farhan dan Dosa Lama Bandung)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Muhammad Farhan baru saja menapaki bulan pertamanya sebagai Wali Kota Bandung. Mantan presenter televisi itu kini berdiri di panggung politik lokal yang jauh lebih berliku dibandingkan sorotan lampu studio. Harapan warga menggantung di pundaknya, tetapi warisan dosa lama birokrasi Bandung tak bisa dihapus hanya dengan retorika atau semangat belaka.

Bandung bukan sekadar ibu kota Jawa Barat, melainkan etalase bagi kota-kota lain di Indonesia. Citra kota ini sebagai pusat kreativitas dan inovasi sering kali bertolak belakang dengan wajah aslinya: macet, tata kota semrawut, korupsi birokrasi, dan pelayanan publik yang tertatih-tatih. Farhan berjanji membawa perubahan. Tapi pertanyaannya: sejauh mana ia mampu menjebol kebiasaan lama yang sudah mengakar?

Dosa Lama Bandung

Setiap pemerintahan di kota besar pasti memiliki problematika, tetapi Bandung memiliki dosa-dosa lama yang terus berulang. Dari satu wali kota ke wali kota berikutnya.

Pertama, korupsi yang mengakar di birokrasi. Kota Bandung bukan hanya pernah tersandung kasus besar yang melibatkan pejabat tinggi. Tetapi juga praktik rente yang menjadi rahasia umum. Mulai dari perizinan usaha, proyek infrastruktur, hingga pengelolaan aset daerah, semuanya kerap berbau korupsi. KPK sudah berkali-kali turun tangan, tetapi akar masalahnya tak pernah benar-benar dicabut.

Kedua, tata kota yang semakin kacau. Bandung pernah dijuluki “Paris van Java,” tetapi kini lebih mirip “Kota Beton van Macet.” Ruang publik semakin tergerus oleh pembangunan yang tak terkendali, sementara drainase buruk menyebabkan banjir langganan. Jalan-jalan yang seharusnya menjadi akses lancar bagi warga justru menjadi arena parkir liar dan kemacetan yang tak berkesudahan.

Baca juga:   Begini Cara Pemkot Bandung Mengentaskan Kemiskinan

Ketiga, pelayanan publik yang lamban dan berbelit. Dari pengurusan KTP, izin usaha, hingga layanan kesehatan, masih banyak warga yang mengeluhkan birokrasi yang bertele-tele. Era digital seharusnya membuat pelayanan lebih cepat dan transparan. Tetapi justru di banyak lini, prosesnya tetap saja diwarnai pungutan liar dan calo perizinan.

Semua ini bukan masalah yang lahir dalam semalam. Dosa lama ini adalah akumulasi dari kebijakan yang setengah hati, pengawasan yang lemah, dan kepentingan oligarki lokal yang terlalu nyaman dengan status quo.

Tantangan Perubahan

Sejak awal, Farhan menegaskan bahwa ia tak ingin terjebak dalam ilusi “100 Hari Kerja.” Ia mengklaim akan bekerja setiap hari, bukan sekadar mengejar pencitraan. Sikap ini patut diapresiasi, tetapi tantangan utama tetap ada: sejauh mana ia bisa mengguncang sistem yang sudah mapan?

Ada beberapa faktor yang akan menentukan sukses atau gagalnya Farhan dalam membangun Bandung yang lebih baik.

Pertama, bersih-bersih birokrasi. Tidak cukup hanya dengan pidato dan instruksi moral kepada ASN, Farhan harus berani melakukan audit menyeluruh terhadap dinas-dinas yang selama ini menjadi sarang pungli dan korupsi. Reformasi birokrasi di tingkat daerah harus dimulai dari rekrutmen yang transparan, promosi berbasis kinerja, dan digitalisasi layanan yang menghilangkan celah korupsi.

Baca juga:   Ruang Kerja Wali Kota Bandung Digeledah KPK

Kedua, membongkar mafia tata kota. Pembangunan Bandung selama ini lebih banyak dikendalikan oleh para pemilik modal besar, bukan oleh kepentingan publik. Perubahan zonasi sering kali lebih ditentukan oleh lobi-lobi pengembang ketimbang visi pembangunan berkelanjutan. Jika Farhan benar-benar ingin meninggalkan jejak sejarah, ia harus berani melawan kepentingan-kepentingan ini dan mengembalikan tata kota ke jalurnya.

Ketiga, mewujudkan pelayanan publik berbasis kepercayaan. Warga Bandung butuh layanan yang cepat, transparan, dan tanpa pungli. Digitalisasi memang sudah berjalan di beberapa sektor, tetapi masih banyak yang belum optimal. Farhan harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat benar-benar dirasakan dampaknya oleh warga, bukan sekadar proyek berbasis angka-angka statistik yang hanya bagus di laporan akhir tahun.

Politik Lokal dan Godaan Kekuasaan

Tak bisa dimungkiri, politik lokal sering kali lebih brutal daripada politik nasional. Wali Kota bukan hanya harus menghadapi birokrasi yang bandel, tetapi juga dinamika DPRD yang penuh tarik ulur kepentingan. Banyak program bagus yang akhirnya mandek karena kepentingan politik yang lebih dominan daripada kesejahteraan publik.

Farhan, sebagai sosok yang sebelumnya lebih dikenal di dunia media dan hiburan, perlu menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pemimpin populis yang hanya pintar bicara. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa berdiri di atas semua kepentingan politik dan memprioritaskan warga Bandung di atas segalanya.

Baca juga:   Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Tabur Bunga di Monumen Oto Iskandar Di Nata

Tantangan lainnya adalah godaan kekuasaan itu sendiri. Banyak kepala daerah yang memulai dengan niat baik, tetapi di tengah jalan tergoda oleh kenyamanan jabatan, transaksi politik, atau iming-iming proyek besar. Jika Farhan ingin mengukir sejarah sebagai wali kota yang berbeda, ia harus berani menolak segala bentuk kompromi yang mengorbankan kepentingan rakyat.

Tindakan Bukan Sekadar Janji

Warga Bandung sudah terlalu sering mendengar janji perubahan dari pemimpin sebelumnya. Yang mereka butuhkan saat ini bukan sekadar narasi optimistis atau tagline kampanye, melainkan tindakan konkret yang bisa dirasakan.

Farhan punya modal awal yang cukup baik: citra sebagai orang luar yang tidak terlalu lekat dengan jaringan oligarki lokal, pengalaman di dunia politik nasional, serta kemampuan komunikasi yang kuat. Tapi tanpa keberanian untuk mengguncang status quo, ia bisa saja berakhir sebagai wali kota yang hanya numpang lewat dalam sejarah Bandung.

Bandung berada di persimpangan. Apakah kota ini akan tetap tenggelam dalam dosa lama ataukah benar-benar berubah? Jawabannya ada di tangan Farhan dan sejauh mana ia bisa bertahan dari jebakan politik lokal yang penuh godaan.

Sejarah akan mencatat. Apakah Farhan sekadar nama di deretan wali kota yang datang dan pergi, ataukah ia akan menjadi sosok yang benar-benar mengubah wajah Bandung? Warga Bandung menunggu jawabannya. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: Muhammad Farhanwali kota bandung


Related Posts

Ibunda Wali Kota Bandung
HEADLINE

Pejabat dan Tokoh Masyarakat Melayat Ibunda Wali Kota Bandung

18 Februari 2026
ibunda wali kota bandung
HEADLINE

Ibunda Wali Kota Bandung Tutup Usia, Pemkot Sampaikan Duka

18 Februari 2026
Infrastruktur bandung
HEADLINE

Setahun Kepemimpinan Farhan, Infrastruktur Bandung Maju dan Terukur

14 Februari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
Radio Player
No Result
View All Result

Trending

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur
PASJABAR

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

5 Maret 2026

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Komunitas Temu Sejarah Indonesia menggelar Diskusi Buku ke-104 bertajuk Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai...

Ketua Umum FPTI Yenny Wahid. (ANTARA FOTO/WAHY PUTRO A)

Ketum FPTI Janji Usut Tuntas Dugaan Pemotongan Bonus Atlet oleh Terduga Pelaku Pelecehan

5 Maret 2026
Ketua Umum FPTI Yenny Wahid, dan Menpora Erick Thohir. (Dok. Kemenpora)

FPTI Pecat Pelatih Terduga Pelaku Pelecehan, Yenny Wahid Fasilitasi Atlet Lapor Polisi

5 Maret 2026
Manchester City. Foto: Pixabay/Jorono.

Manchester City Ditahan Imbang Forest, Harapan Pangkas Jarak dengan Arsenal di Puncak Klasemen Kandas

5 Maret 2026
Perbaikan Jalan Bekasi

DPRD Kota Bekasi Ingin Percepatan Perbaikan Jalan Rusak Sebelum Arus Mudik 2026 Dimulai

5 Maret 2026

Highlights

Manchester City Ditahan Imbang Forest, Harapan Pangkas Jarak dengan Arsenal di Puncak Klasemen Kandas

DPRD Kota Bekasi Ingin Percepatan Perbaikan Jalan Rusak Sebelum Arus Mudik 2026 Dimulai

Infrastruktur Kota Bekasi Masih Kurang Memadai, DPRD Kota Bekasi Beri Sorotan

Rekor Michael Carrick Terhenti! Manchester United Tumbang di Kandang Newcastle, Arsenal Rebut Takhta Tim Terbaik 2026

Baznas Sediakan Servis dan Ganti Oli Gratis untuk 5.000 Motor Pemudik

Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan Bocah SD di Cipatat Bandung Barat

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.