BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar pekan lalu terus bertambah, mencapai lebih dari 2.800 orang, dengan lebih dari 4.600 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dilansir dari Antara, pemerintah militer Myanmar mengumumkan data terbaru pada Rabu (2/4/2025), lima hari setelah bencana tersebut memperparah krisis kemanusiaan di negara yang masih dilanda perang saudara.
Jumlah korban gempa Myanmar diperkirakan terus meningkat karena ratusan orang masih terjebak di bawah reruntuhan di Mandalay. Kota terbesar kedua di Myanmar yang berdekatan dengan pusat gempa.
Proses evakuasi terkendala terbatasnya alat berat yang tersedia.
Sebagai respons terhadap bencana ini, Aliansi Tiga Bersaudara—kelompok yang terdiri dari Tentara Arakan. Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang—mengumumkan gencatan senjata sepihak selama satu bulan.
Mereka menyatakan tidak akan melakukan operasi ofensif. Dan hanya akan bertahan untuk memastikan kelancaran bantuan kemanusiaan.
Langkah serupa juga diambil oleh pemerintahan paralel Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang dibentuk oleh anggota pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi.
Mereka menyatakan menghentikan serangan militer sejak Sabtu (29/3/2025) guna memfasilitasi bantuan bagi para korban gempa.
Namun, hingga saat ini militer Myanmar belum menyatakan akan menghentikan serangannya.
Menurut laporan media setempat, mereka justru melanjutkan serangan udara ke wilayah yang dikuasai pasukan oposisi.
Sementara itu, upaya penyelamatan terus dilakukan. Junta Myanmar menyebut lebih dari 1.500 anggota tim penyelamat asing telah tiba untuk membantu operasi evakuasi.
Pada Rabu, tim medis asal Jepang juga tiba di Yangon untuk mengirimkan bantuan darurat. Termasuk perlengkapan sanitasi, air bersih, dan alat pemurni air. (han)











